NHW Pekan 7 Tahap Kupu-kupu Bunda Cekatan Batch 4

Akhirnyaa tiba di pekan terakhir di Bunda Cekatan. Terharu, akhirnya setelah perjalanan kuliah yang cukup panjang, akhirnya keihatan juga finish line-nya. Rasanya di tahap mentorship akhir ini memang semangat mulai kendor, beberapa NHW lalu saja di post di blog hanya gambar tanpa deskripsi. Walau tidak bisa high energy ending, saya tetap mau puk-puk diri sendiri karena bisa bertahan hingga sejauh ini. You did a good job. Dan spesial untuk NHW terakhir ini, saya kembali menuliskan narasi di dalam postingan saya. Yey (apresiasi diri ceritanya, haha).

Jadi ada tugas apa saja di NHW terakhir ini?

Surat Cinta untuk Mentor dan Mentee

Semua pertemuan akan diakhiri dengan perpisahan. Selain ada rasa lega karena proses mentorship sudah selesai, rasanya sedih juga harus berpisah dengan mentor dan mentee yang sudah menemani dalam proses belajar selama beberapa pekan ini. Terima kasih ya, maaf atas kesalahan selama berinteraksi, serta doa terbaik untuk mentorku Mba Ayiek dan menteeku Mba Dewi dan Zarifa.

Surat Cinta dari Mentor dan Mentee

Selain mengirimkan surat cinta, aku juga dapat surat cinta dari mentor dan mentee. Aaaa terharu, semoga bertemu lagi ya dalam kesempatan dan playground yang lain.

Rayakan Kemajuan

Di akhir tahap ini, sebagai bagian dari akhir tahap belajar, kitapun merayakan kemajuan pribadi. Melihat sejauh apa kita sudah melangkah selama di Bunda Cekatan ini. Dan Masya Allah, terharu lagi karena ternyata aku sudah mampu berprogress seperti ini. Terima kasih magIKA dan para peri yang sudah menyusun program Bunda Cekatan ini sedemikian rupa sehingga memberikan manfaat yang besar bagi pesertanya. Semoga benih cekatan yang ditanam selama kelas Bunda Cekatan ini bisa tumbuh besar dan memberikan manfaat pada sekitar.

Selain ini, aku juga mengisi bersama untuk lembar kemajuan mentor serta mentee.

Gambar Kupu-kupu

Sebagai kupu-kupu yang sudah menyelesaikan tahapan terkahir di perkuliahan Bunda Cekatan ini, kami diminta untuk menggambarkan kupu-kupu yang representatif dengan kita. Saya memutuskan menggambar dengan highlighter yang warnanya tipis-tipis tapi gambarnya penuh secara konsisten. Kemudian ada bagian pinggir yang berawarna tebal, dan ada bagian yang bolong tapi ditambal dengan gambar dengan hati. Seperti inilah perjalanan saya di Bunda Cekatan, mungkin tidak full fokus karena di sela kegiatan yang lain tapi saya mencoba untuk mengerjakan tanggung jawab NHW secara konsisten. Ada beberapa hal yang masih kurang, tapi semangat dan passion saya untuk menyelesaikan target di peta belajar menjadi pendorong dan penyemangat untuk menyelesaikan semua tahapan di Bunda Cekatan ini.

Alhamdulillah, usai sudah penulisan NHW terakhir di tahap Bunda Cekatan ini. Sampai jumpa di perkuliahan Ibu Profesional selanjutnya 🙂

NHW Pekan 3 Tahap Kupu-kupu Bunda Cekatan Batch 4

Setelah 2 pekan lalu hanya setor gambar hasil pengerjaan NHW di blog, pekan ini rencananya mau nulis lagi. Setelah beberapa pekan lalu bisa setor NHW jauh dari deadline, pekan ini saya masih menuliskan NHW ini di 2.5 jam sebelum deadline haha. Pekan ini sungguh penuh tantangan, ada perjalanan keluar kota berturut-turut, beban pekerjaan kantor cukup berat karena persiapan pilot trial, ada persiapan kegiatan WS rumlit IP Bekasi, juga persiapan final project Kampung Bakat. Sungguh menantang, mengerjakan NHW mentorship ini di tengah-tengah banyak pekerjaan lain yang perlu diperhatikan juga, alhamdulillah akhirnya bisa diselesaikan.

Pekan ini aku sangat berterima kasih kepada mentorku Mba Ayiek, yang menjadi support system selama pengerjaan NHW ini. Mba Ayiek yang menghubungi aku duluan sambil menginfokan bahwa buku yang beliau ingin berikan sudah dikirim. Beliau juga menanyakan apakah ada yang bisa dibantu. Terharu banget akutuh, saat mentor menghubungi aku bahkan belum nonton video tentang NHW pekan ini. Akhirnya aku nonton video, tapi karena keterbatasan waktu, pekan ini adalah pekan pertama dimana aku tidak sempat menonton video tayangan ulang live sampai selesai. Mohon maaf ya magika dan peri.

Di hari Minggu saat sudah sampai rumah lagi, baru aku update progress pekan ini kepada Mba Ayiek, yang sudah kukerjakan pekan lalu dan pekan ini. Mba Ayiek menanyakan respon keluarga terkait pengerjaan pekan ini. Alhamdulillah keluarga antusias. Terima kasih ya Mba Ayiek sudah menjadi first aid-ku di pekan ini.

Selanjutnya ketemu mentee-mentee yang kece. Zarifa menghubungi aku duluan, dan menceritakan progress pekanannya secara detail, juga meminta saran. Sedangkan Mbak Dewi sepertinya pekan ini hectic juga jadi aku menghubungi duluan untuk menanyakan kabar. Mbak Dewi menceritakan tantangannya dalam rencana manajemen emosi. Sesuai arahan MagIKA dan peri, sebagai mentor aku berusaha memberikan pertanyaan kepada mentees agar mereka bisa menggali root cause dari tantangan mereka masing-masing.

Aku sesungguhnya melawan keraguan, rasa takut sebagai mentor ketika memberi saran. Di alam bawah sadar aku terus bertanya, ini aku menggurui gak ya, aku benarkah memberikan saran seperti itu, dst. Tapi untungnya aku dapat mentee-mentee yang suportif juga dengan proses belajarku sebagai mentor ini. Terima kasih ya Zarifa dan Mbak Dewi, kalian berdua keren, sudah paham dengan alur belajar kalian masing-masing.

Semoga kita semua sukses menjadi kupu-kupu di akhir tahap ini ya 🙂

Sneak Peek: Tahap Kepompong Bunda Cekatan #4

Hai, semuanya. Sudah lama banget rasanya tidak mengisi blog ini. Tahap kepompong Bunda Cekatan #4 juga sebenarnya sudah lama berlalu, tapi saat mau isi jurnal tahap kupu-kupu, kok rasanya sayang ya kalau tahap kepompongnya tidak terdokumentasi di blog. Maka saya tuliskan perjalanan di tahap kepompong dulu disini sebelum submit jurnal tahap kupu-kupu haha.

Jadi setelah selesai menjalani tahap ulat di perkuliahan Bunda Cekatan batch 4, saatnya kami melanjutkan ke tahap kepompong. Tahap kempompong ini terdiri dari 2 bagian yang dilaksanakan paralel yaitu: tantangan 30 hari dan tantangan puasa kepompong.

Yang spesial dari tahap kepompong ini, selain harus mengerjakan 2 tantangan paralel adalah, layaknya kepompong, kita harus mengasingkan diri. Jadi selama tahap ini grup dinonaktifkan, tidak ada korhap ataupun teman-teman yang saling mengingatkan selama pengerjaan tugas dan memang tidak boleh saling mengingatkan. Jadi di tahap ini kita harus menguatkan motivais internal kita dan belajar me-reminder diri kita sendiri. Di tahap ini, aku bahkan ganti wallpaper hape dengan kalender Bunda Cekatan supaya tidak lupa wkwk.

Catatan Kepompongku

Tantangan ini dilaksanakan selama 30 hari pada tanggal 1 – 30 September 2023, dimana batas waktu pengumpulan hariannya pada pukul 23.59. Pada tantangan ini, kita mengerjakan satu aktivitas yang ingin dilatih selama 30 hari nonstop. Refleksinya kita tulis pada jurnal beserta stamp evaluasi/penilaian kita terhadap aktivitas tersebut.

Aktivitas yang saya coba jalankan pada tahap kepompong ini adalah mengerjakan project bersama anak setiap hari. Supaya tidak kekurangan ide, saya mencoba berbagai kegiatan: mendaftar kampung bakat DIY mainan anak, mengikuti kegiatan STEAM lab dan mencari ide dari Quran based play dan pinterest.

Walaupun tantangan 30 hari kepompong ini tidak menjadi persyaratan lulus dari tahap kepompong, saya mencoba konsisten untuk mengerjakan aktivitas selama 30 hari. Tentu banyak manfaat selama mengerjakan aktivitas: anak-anak senang diajak bermain terus, saya juga bisa membiasakan kebiasaan baik untuk saya dan anak-anak. Tetapi tantangannya juga banyak, konflik antar anak-anak, sampai lelah beberes setelah beraktivitas. Sampai beberapa kali sudah terlalu lelah untuk submit jurnal di hari yang sama dan akhirnya dirapel. Namun walaupun begitu, aku cukup puas bisa konsisten mengerjakan tantangan 30 hari ini. Yeay 🙂

Catatan Puasaku

Pada tantangan puasa ini, kita diminta untuk berpuasa dari kebiasaan buruk yang ingin kita tinggalkan. Satu saja per minggunya. Kemudian kita tuliskan refleksi puasa kita dan rencana puasa di pekan selanjutnya pada jurnal. Dilengkapi pula dengan stamp penilaian/evaluasi kita terhadap puasa kita di pekan itu.

Puasa dilaksanakan selama 7 hari sebanyak 4 pekan dan tiap pekan diberi jeda 3 hari untuk membuat jurnal cerita puasaku. Puasa saya di pekan 1 adalah puasa menggunakan gawai saat membersamai anak dan puasa saya di pekan 2-4 adalah puasa menunda mengerjakan hal prioritas. Adanya jeda ini jujur membuat saya perlu konfirmasi ke kalender supaya tidak terlewat deadline pengumpulannya. Alhamdulillah, bisa submit cerita puasa selama 4 pekan dengan tepat waktu.

Jujur, banyak keseruan yang terjadi selama tahap kepompong ini. Ini adalah tahap yang sejauh ini paling saya sukai dan paling terasa membuat cekatannya. Alhamdulillah, bisa lanjut ke tahap kupu-kupu. Semangat terus 🙂

Ide Mainan Anak: DIY Mainan dengan Nilai Edukasi

Di misi keempat kabin DIY Mainan Anak Kampung Bakat Ibu Profesional batch 3, kami diberikan misi untuk membuat DIY (Do It Yourself) mainan anak yang memiliki nilai edukasi. Jujur sebenarnya ini adalah tantangan untuk saya yang jarang membuat DIY dengan tujuan mengajarkan hal tertentu. Biasanya saya ber-DIY semata-mata agar anak bisa bermain lebih seru atau mencoba experience baru, dan nilai edukasinya dari pengalaman bermain tersebut. Untuk membuat DIY dengan tujuan pembelajaran tertentu membuat saya khawatir anak-anak akan cepat bosan hingga mengalami tantrum/frustasi. Jadi misi keempat ini membuat saya keluar dari comfort zone.

Karena mainan dengan nilai edukasi ini perlu spesifik dengan usia dan tahap perkembangan anak, maka saya juga tidak bisa membuat satu saja untuk dimainkan kedua anak, harus khusus untuk masing-masing anak. Eh, tapi tak disangka dari tantangan yang awalnya membuat saya khawatir, malah bisa dapat 3 ide DIY dan bermain bersama anak. Apa saja ya idenya? Yuk disimak 🙂

1. DIY Mainan Penjumlahan dan Pengurangan

Tujuan pembelajaran

Mengenalkan anak penjumlahan dan pengurangan dasar (1-20).

Anak saya yang berusia 6 tahun, menurut pengamatan saya, sudah cukup siap untuk berlatih penjumlahan dan pengurangan, tetapi belum terlalu tertarik untuk mengisi worksheet. Jadi untuk menstimulus minatnya, saya bermaksud untuk membuat DIY mainan penjumlahan dan pengurangan, dimana anak bisa membilang angka saat penjumlahan dan pengurangan dalam bentuk simulasi jarak.

Alat dan Bahan

  • Gunting/Cutter
  • Penggaris
  • Kardus
  • Benang wol
  • Kertas warna (ukuran A4)
  • Spidol/alat tulis
  • Lem/double tape/lem tembak
  • Selotip plastik/plastik sampul
Kardus bekas hampers mangkok keramik yang kebetulan cocok banget untuk dibuat jadi DIY mainan penjumlahan dan pengurangan serta DIY phonic basket

Cara Membuat

  • Potong kardus berbentuk papan persegi panjang.
  • Gunting kardus lainnya menjadi 5 kardus berbentuk kotak kecil untuk menempatkan soal penjumlahan atau pengurangan (3 untuk angka, 2 untuk simbol).
  • Lapisi kardus untuk soal dengan plastik sampul/selotip plastik besar untuk membuatnya bisa dipakai ulang (wipe and clean).
  • Lekatkan di bagian bawah papan kardus.
  • Buat “meteran” dari kertas berwarna untuk membantu anak membilang saat mengerjakan soal penjumlahan/pengurangan. Buat ukuran yang seragam dengan penggaris dan spidol/alat tulis. Lapisi dengan plastik jika perlu.
  • Tempatkan meteran tersebut di atas kardus kotak untuk soal penjumlahan/pengurangan.
  • Buat lubang di sebelah kanan bagian atas dan bawah meteran.
  • Masukkan benang wol ke lubang tersebut.
  • Buat penanda yang akan digunakan untuk membilang (bisa mobil,dst). Kali ini saya menggambar laba-laba pada lingkaran kardus berukuran kecil.
  • Lekatkan penanda pada benang wol, lalu ikat benang. Pastikan penanda bisa bergerak naik turun dengan menggerakkan benang.

Cara Memainkan

  • Tuliskan soal penjumlahan/pengurangan di kotak bagian bawah (4 kotak terdepan).
  • Bimbing anak untuk menyelesaikan soal dengan menggerakkan penanda naik (menjumlah) dan turun (mengurangi).
  • Ajak anak menuliskan angka yang didapat di kotak terakhir (setelah ‘=”).
  • Ulangi kembali dengan menghapus angka yang ditulis pada kotak soal dan jawaban serta menuliskan soal pertanyaan baru.
Cara Memainkan DIY Mainan Anak Penjumlahan dan Pengurangan

DIY Phonic Basket

Tujuan pembelajaran

Mengenalkan anak huruf dan mengajarkan anak untuk sorting benda berdasarkan huruf awalnya.

Mainan ini saya tujukan untuk anak saya yang usianya 3.5 tahun. Saya ingin mengenalkan anak tentang huruf berdasarkan suaranya (phonics). Anak saya yang kedua ini yang membuat saya khawatir untuk diberikan mainan yang ada tujuan pembelajarannya karena masih belum paham aturan main yang rumit dan masih belajar regulasi emosi. Jadi untuk membuatnya semangat, saya membuat phonics basket dengan tema superhero.

Alat dan bahan

  • Kardus berukuran besar dan dua kardus berukuran lebih kecil yang cukup masuk secara bersamaan di kardus besar tersebut.
  • Gunting/cutter
  • Lem fox/double tape/lem tembak
  • Kertas berwarna/cat warna/gambar untuk menghias
Rancangan mainan phonic basket (kiri) serta mainan penjumlahan dan pengurangan (kanan) dari kardus bekas hampers

Cara membuat

  • Lapisi bagian dalam kardus (2 kardus lebih kecil) dengan kertas berwarna (masing-masing berbeda warna). Dapat juga menggunakan cat untuk mewarnai bagian dalam kardus.
  • Buat wadah untuk meletakkan huruf dalam masing-masing kardus kecil.
  • Hias dengan gambar agar lebih menarik.
Phonics basket

Cara bermain

  • Siapkan bahan-bahan tambahan untuk bermain: 2 huruf yang akan menjadi parameter sorting dan benda-benda yang berawalan kedua huruf tersebut. Contoh: huruf ‘a’ (apel, anggur, alpukat) dan huruf ‘b’ (bebek, bus, bola).
  • Kenalkan anak dengan bunyi masing-masing huruf dan letakkan pada kardus masing-masing.
  • Ajak anak menyebut nama benda-benda yang akan di-sorting dan menganalisis huruf pertamanya, lalu meletakkan di kardus yang sesuai.
Cara memainkan phonics basket

3. DIY Instant ice dan Ice tower

Tujuan pembelajaran

Mengenalkan anak proses pembekuan dari air menjadi es.

Alat dan bahan

  • Pendingin: Bisa wadah besar berisi es, garam dengan termometer untuk mengamati suhu atau freezer.
  • Botol plastik berisi air kemasan atau air suling. Air dapat diberi warna agar lebih menarik.
  • Wadah lain berisi es untuk menjadi dasar ice tower.
Mendinginkan botol plastik di freezer
Mendinginkan botol plastik berisi air di wadah es dan garam (suhu perlu dijaga sekitar -7 -(-9) derajat C

Cara memainkan

  • Dinginkan botol plastik berisi air sampai sangat dingin tetapi belum menjadi es. Biasanya es sudah mulai sedikit terbentuk tapi kebanyak masih cair.
  • Buat percobaan instant ice: air sudah sangat dingin namun karena air murni perlu energi lebih dibandingkan air kran untuk membentuk es. Ketuk es ke meja atau giyangkan botol plastik, dan air akan berubah menjadi es secara instan.
  • Letakkan wadah berisi es. Tuangkan air dalam botol plastik ke arah es, akan terbentuk proses nukleasi dimana es pada wadah memicu pembentukan es dari air yang dituang sehingga membentu ice tower.
Instant ice
Ice tower

Alhamdulillah, ternyata seru banget membuat DIY dengan nilai edukasi ini. Anak-anak juga senang mendapat tantangan baru. Penasaran? Silakan coba juga ya 🙂

Ide Bermain Anak dengan Bahan dari Alam: DIY Kolase Daun Kering dan Rakit dari Ranting

Hai semuanya. Hari ini saya ingin menceritakan pengerjaan misi ketiga saya di Kabin DIY Mainan Anak Kampung Bakat Batch 3 Ibu Profesional. Setelah sebelumnya di misi pertama kita diperkenankan membuat DIY mainan anak secara bebas, dan di misi kedua diberikan misi membuat DIY dari kardus/plastik, di misi ketiga ini kami diberikan misi untuk membuat DIY dari bahan alam.

Bahan apa saja yang dimaksud bahan alam di misi ini? Menurut penjelasan ayunda Ade Irma, bahan alam yang dimaksud adalah bahan-bahan yang kita peroleh langsung dari alam tanpa pengolahan, seperti pasir/tanah, batu, ranting, daun, bunga hingga rumput. Wah jujur ini adalah tantangan baru bagi saya yang sangat jarang (atau malah gak pernah ya haha) ber-DIY dari bahan alam.

1. Mencari bahan alam

Langkah pertama tentunya mengumpulkan bahan, bahan alam apa yang sekiranya melimpah di lingkungan sekitar dan mudah diperoleh. Karena tetangga dekat rumah ada yang baru memangkas pohonnya, jadi ada banyak sisa ranting dan daun yang mengering. Alhamdulillah, ada bahan yang bisa dimanfaatkan.

Mengumpulkan bahan alam

2. Mencari ide

Selanjutnya kami mencari ide, kira-kira karya apa yang bisa dibuat dari ranting dan daun kering. Pilihan kami jatuh pada membuat kolase gambar dari daun yang sumbernya dari sini dan membuat rakit dari ranting yang sumbernya dari sini.

3. Mengumpulkan alat dan sisa bahan

Setelah menentukan DIY apa saja yang akan dibuat, kami pun mengumpukan alat dan sisa bahan sebagai berikut:

Untuk kolase daun kering:

  • Daun kering
  • Gunting
  • Lem
  • Spidol/ala tulis
  • Kertas

Untuk rakit dari ranting:

  • Ranting
  • Tali/selotip untuk menyatukan ranting
  • Lem
  • Alat bantu untuk memotong ranting
Daun dan ranting yang sudah dipisahkan.

Catatan: Awalnya saya ingin menggunakan golok untuk memotong ranting pohon ini, tetapi ternyata sulit untuk saya. Akhirnya ranting dipatahkan secara manual dengan tangan.

4. Membuat DIY

Membuat kolase daun kering

  • Ajak anak untuk memikirkan konsep gambar yang akan dibuat. Anak-anak saya ingin membuat kolase berbentuk superhero.
  • Siapkan kertas dan buat “cetakan” gambar yang ingin ditempelkan dengan potongan daun kering. Saya membuat cetakan gambar superhero dengan spidol di kertas untuk ditempelkan oleh anak-anak.
  • Ajak anak menggunting daun kering atau meremasnya agar menjadi potongan-potongan kecil yang mudah ditempel.
  • Ajak anak menempelkan potongan daun tersebut di kertas gambarnya dengan lem.
  • Keringkan.
Kolase daun kering

Membuat rakit dari ranting

  • Ajak anak untuk mengumpulkan dan membariskan ranting dengan ukuran panjang yang mirip sampai cukup untuk membuat rakit.
  • Karena saya menyediakan beberapa pilihan bahan untuk mengikat (benang wol beberapa warna, tali rapia beberapa warna dan selotip beberapa warna) saya mempersilakan anak untuk memilih jenis bahan yang akan mereka gunakan untuk rakit mereka.
  • Bantu anak untuk mengikatkan tali di sekeliling ranting pada salah satu ujung kemudian berpindah ke ranting selanjutnya sampai akhir lalu diikat. Ulangi pada ujung lainnya.
  • Tambahkan daun di atas rakit yang sudah dibuat sebagai layar. Rekatkan dengan lem/selotip.
  • Mainkan rakit di atas air dan ajak anak untuk mengeksplor dengan menambahkan beban/mainan ke atas rakit.
Rakit yang sudah selesai dibuat

5. Respon anak

Anak-anak senang karena dilibatkan dari awal proses mulai dari mengumpulkan bahan alam sampai memainkan dan merapikan sisa DIY-nya. Memang melibatkan anak dalam membuat DIY dari awal sampai akhir cukup melelahkan haha karena biasanya pasti ada konflik, anak ingin membuat sesuatu sesuai ekspektasi tapi ia belum mampu sehingga frustasi, tapi disini juga kesempatan ibu untuk melatih problem solving. Anak-anak pun puas dengan konsep yang mereka terlibat di dalamnya. Tambahannya lagi, karena yang dibuat adalah rakit yang harus dimainkan di air, anak-anak pun tambah senang karena berkesempatan bermain dengan air.

Memainkan rakit di bak yang berisi air. Air diberikan pewarna biru untuk estetika.

6. Manfaat bagi anak

  • Anak-anak memahami konsep ‘kekayaan alam’ dimana dari alam bisa diperoleh berbagai hal yang bermanfaat bagi manusia seperti batang pohon yang bisa digunakan sebagai rakit untuk menyeberang sungai. Hal ini juga dapat dikaitkan dengan kekuasaan dan kasih sayang Allah.
  • Anak-anak belajar mengeksplorasi bahan baru untuk berkarya dan dapat melakukan perbandingan dengan bahan lain.
  • Anak-anak belajar prinsip konstruksi dengan membuat rakit.
  • Dengan memainkan rakit, anak-anak juga belajar konsep mengapung dan tenggelam. Anak-anak juga belajar menguji kapasitas rakit dengan menambahkan beban berupa mainan ke atas rakit.

Alhamdulillah ternyata seru ya ber-DIY dari bahan alam. Yuk, coba juga 🙂