A new journey

1Bismillahirrahmanirrahim,

Akan selalu ada rintangan untuk mencapai niat baik. Begitupun dengan konsistensi menulis blog. Selama kuliah 6 tahun yang panjang, ada banyak hal yang ingin saya bagi dan bahkan sudah diniatkan untuk dituangkan di blog. Tetapi ada sejuta alasan bernama kemalasan yang akhirnya membuat saya tak juga meng-update blog ini (tiup-tiup debu dan sarang laba-laba di pojokan). Agak sedih karena blog yang awalnya ditujukan untuk memotivasi teman-teman sesama farmasi (dan calon), dengan membagikan ilmu yang saya dapat selama kuliah, ternyata kandas begitu saja. Post awal saya tentang “gak papa masuk farmasi” jadi seolah-olah tidak meyakinkan karena tidak ada data penunjangnya. Haha.

Sempat sudah mengabaikan cita-cita mulai menulis blog, akhirnya saya tiba di tahun 2016. Tahun yang saya mulai dengan 2 target besar saja: lulus apoteker dan diterima kerja di tempat yang memfasilitasi ilmu apoteker dan S2 saya. Hanya Allah yang Maha Tahu, di tahun 2016 malah saya mengalami 2 peristiwa yang jauh lebih besar, menikah dan hamil. (Sambil curhat) setelah proses pernikahan yang menguras pikiran, awalnya saya memang memutuskan untuk menunda kehamilan. Merasa belum siap, merasa masih ingin beradaptasi di dunia kerja, meniti karir, dan beradaptasi dengan peran baru sebagai istri, membuat penundaaan kehamilan dengan yakinnya saya ucapkan pada keluarga, teman dan tiap interview kerja. Memang hanya Allah yang Maha Kuasa, keputusan-Nya lah yang membuat saya juga harus menyiapkan diri dengan peran baru sebagai seorang ibu,

Perasaan kalut dan takut, awalnya lebih dominan daripada kebahagiaan saya saat melihat garis-garis positif di test pack yang saya coba juga dikarenakan kekhawatiran. Suami dan ibu saya lah yang menguatkan saya, meyakinkan bahwa saya mampu dan siap mendukung saya 100%. Ibu saya juga berkali-kali mengingatkan jangan sampai saya merasa sedih karena janin di perut saya juga bisa merasakan apakah kehadirannya diinginkan atau tidak. Sampai pada titik dimana saya geli sendiri, mengapa saya bertingkah seperti ABG yang hamil di luar nikah, kan saya mah udah nikah dan ada suaminya. Haha.

Kekalutan dan perasaan tidak mampu itulah yang mendorong saya untuk lebih banyak belajar, mencari tahu tentang persiapan kehamilan, persalinan sampai parenting. Baca-baca grup dan milis ibu-ibu muda, blog walking, nonton video kehamilan, membuat saya lebih excited untuk mempersiapkan kelahiran buah hati pertama saya. Knowledge is power adalah kata-kata yang saya suka banget dan selalu saya pegang tiap harus jauh-jauh pergi dan merogoh kocek buat ikut kelas-kelas persiapan kehamilan. Sembilan bulan itu bukan waktu untuk menunggu persalinan, tapi waktu persiapan sebaik-baiknya untuk menyambut kedatangan si bayi mungil, juga kata-kata bidan yang saya camkan kediri saya supaya tidak kehilangan momen untuk mempersiapkan si dia, yang tidak bisa memilih untuk dilahirkan dan dibesarkan oleh siapa.

Makanya, saya bahagia banget bisa nemu blog ibu-ibu cantik dan baik hati yang sangat informatif dan super menyemangati ibu-ibu hamil yang tengah menghadapi hal serupa. Dari merasakan manfaat tersebut, saya jadi termotivasi untuk ikut membagi hal-hal yang telah saya alami selama masa persalinan saya, untuk ibu-ibu hamil pada khususnya dan pembaca lain pada umumnya. Pay It Forward yah kalo kata filem mah haha. Kalaupun tidak ada yang baca, setidaknya bisa untuk throwback buat diri saya sendiri nanti, kenang-kenangan tentang persiapan kelahiran anak pertama saya.

Jadilah blog ini diisi lagi. Sempet mau bikin blog bener-bener baru, tapi gak jadi abis baca posting-posting lama yang penuh emosi banget haha jadi gak tega. Biar disimpen buat kenang-kenangan (ibu hamil jadi melankolis mulu haha). Dan dimulai dengan basmalah, supaya bisa konsisten terus nulisnya.

A new start for a new journey, Insya Allah.

Advertisements

Musik untuk Amatir

Baru aja selesai baca blog orang-orang yang super inspiratif, ada yang bikin ketawa terbahak-bahak, bikin hati tertohok, terharu, atau yang kreativitasnya bikin pengen muntah pelangi. Super WOW. Now, I’m dying to blog something, but my mind is kinda stuck right now, so I better share something useful. Atau kalo nggak gue cuma bakal menceracau galau, karena pemikiran kosong terbukti merupakan media enrichment yang sangat menunjang tumbuhnya pemikiran melankolis.

Lanjut.

Dulu, waktu awal kuliah gue sempet ikutan aktif di unit angklung, dan terpesona banget karena perkembangan angklung ternyata udah modern banget. Mereka bahkan sempet perform lagu Justin Bieber-Baby dan  banyak lagu-lagu lain yang nadanya kompleks. Seinget gue waktu SMP angklung cuma mainin Cicak di Dinding yang nadanya sol-mi-sol-mi-mi-fa-sol. Ternyata musik tradisional juga masih berkembang pesat, dan sepengamatan gue angklung emang hits banget di Bandung, anak-anak SMA udah banyak yang ke luar negeri untuk menampilkan permainan angklung mereka. Wah. Sayang kesibukan dan bentrok-sitas membuat gue harus mengucapkan perpisahan dengan permainan angklung tapi I do really miss it.

Nah, waktu pertama kali masuk unit, senior-senior gue banyak memberikan ilmu dan informasi perihal ke-angklung-an ini. Semacam gue share aja ya, walau mereka yang berkecimpung di dunia musik pasti bosen, tapi kan judulnya ‘Musik untuk Amatir’. Hohoho.

Ketukan                    : Tekanan yang berulang dalam periode tertentu dengan jangka waktu tetap

Birama                      : Sekumpulan ketukan pada aturan tertentu

Arsis                          : Tekanan keras

Thesis                        : Tekanan lemah

Komposisi musik  : Kombinasi berbagai nada yang dimainkan pada rentang-rentang waktu tertentu

Dinamika                  : Penunjuk keras/lembutnya suatu lagu dimainkan

Macam-macam Dinamika

1. Crescendo              : Makin lama makin keras

2. Decrescendo         : Makin lama makin pelan

3.  Forte (f)                 : Keras

4. Piano (p)                : Lembut

5. Fortissimo (ff)      : Lebih keras

6. Pianissimo (pp)   : Lebih lembut

7. Mezzoforte (mf)   : Agak keras

8. Mezzopiano(mp) : Agak lembut

9. Fade in                    : Berubah perlahan menuju keras

10. Fade out              : Berubah perlahan menuju hening

Nada

Nada adalah komponen suara yang punya tinggi dan nilai tertentu, muncul dari perbedaan frekuensi. Semakin tinggi nada, semakin tinggi pula frekuensinya. Jarak frekuensi antar nada sekitar 440 Hz.  Penulisan nada terbagi menjadi not balok dan solmisasi, yang pemakaiannya tergantung pada orientasi.

Interval (jarak nada)

Hubungan antara 2 pitch (jarak antara 2 nada) untuk membedakan nada satu dengan nada yang lain.

C–(1)–D–(1)–E–(1/2)–F–(1)–G–(1)–A–(1)–B–(1/2)–C

Angklung

Penomoran angklung dilakukan untuk memudahkan penggunaannya. Dayang Sutikna menomori angklung dari 1-25. Namun karena ekspansi  lagu, sekarang digunkan angklung C9-35. Penambahan 1 nomor artinya nadanya naik 1/2 interval. Jadi dalam 1 oktaf terdapat 12 nomor angklung. Terdapat penanda nada mutlak di belakang bambu angklung. Nada dasar C,G biasanya digunakan untuk lagu ceria sedangkan nada dasar Fis untuk lagu yang suram.

After all, I hope you find it useful 🙂

Fenomena ‘Menjadi Ketua’

Sebut ini penafsiran subjektif sekaligus naïf dari seorang yang terdepak dari kompetisi perebutan gelar ‘ketua’ tapi bagaimana pun juga saya merasa ini harus dituliskan dan (mungkin) dibahas. Sebelum bahkan saya menjadi terlalu apatis untuk memahamai sekaligus mengerti bahwa –jika ini memang benar- percaturan organisasi masa kini sungguh dalam bahaya besar.

Setelah sebelumnya ditawari menjadi pemimpin- dalam cakupan yang bagi saya cukup besar, sebenarnya saya sedang berada dalam tahap rehat organisasi. Selama ini saya merasa sudah terlalu loyal dalam menerima asupan tanggung jawab hingga tak dapat dipungkiri saya keteteran menjalani kehidupan pribadi.

Puncaknya adalah semester lalu ketika saya menerima tiga tanggung jawab sekaligus sebagai ketua divisi 2 acara berbada selagi sibuk berlatih penampilan unit kegiatan mahasiswa- yang notabene membuat saya pulang minimal pukul 22.30 malam. Entah bahkan saya pun tidak ingat bagaimana cara saya menjalani pergulatan hidup sekeras itu. Hubungan sosial jadi ngadat, penampilan berantakan dan nilai akademik akhirnya turut menjadi korban. Dan tanggung jawab itu, meski akhirnya selesai jua, tetaplah tidak dapat optimal karena harus berbagi hati dengan tanggung jawab lain.

Sampai akhirnya saya sampai pada sebuah pertanyaan, “Apa yang sebenarnya saya cari?”. Di tengah malam usai berlatih marching band , di kamar yang temaram, berantakan dan sendirian, pertanyaan yang ditujukan pada diri yang gembel usai pertarungan itu terasa begitu nelangsa. Tak ubahnya seperti kegalauan di belantika sinetron Indonesia.

Maka saya putuskan, saya tidak mau lagi kalap seperti itu. Saya tinggalkan satu persatu tanggung jawab organisasi saya dan mencoba menjadi pribadi yang bebas. Sedikit intermezzo, pola hidup bebas kegiatan organisasi ini sebenarnya terinspirasi dari seorang kawan yang memutuskan untuk menghapus pertemuan organisasi dalam jadwal hariannya. Istilah pergaulannya: ‘ansos’. Bagi saya waktu itu, kehidupannya yang santai tanpa tekanan, dibandingkan dengan hidup saya yang dikejar-kejar deadline, adalah rumput tetangga yang tak hanya hijau tapi juga segar dan menumbuhkan bunga mawar yang wangi. Pendek kata saya iri dan mau juga punya kehidupan seperti itu.

Tapi seperti yang pernah dikatakan salah seorang senior saya, kalau kamu sudah terbiasa dengan rutinitas yang begitu padat, ketika kegiatan itu berhenti kamu akan mencari kegiatan baru. Ya, saya rasa kesibukan adalah sebuah kecanduan. Tak lama setelah ambil cuti, saya menemukan kegalauan baru. Malam-malam saya yang padat sekarang kosong. Apa yang harus saya lakukan dengan kehidupan hampa seperti ini? Ya, manusia memang serba tidak bersyukur seperti itu- menggeneralisir padahal itu kan saya :P.

Akhirnya singkat cerita saya putuskan menerima tanggung jawab kecil. Saya putuskan jadi anggota baik-baik saja, mencoba fokus pada hal yang sudah saya sanggupi sebelumnya. Di tengah kehidupan saya yang masih stabil dan mencoba menemukan bentuk, tiba-tiba datanglah tawaran menjadi pemimpin unit kegiatan mahasiswa. Bagaimana mungkin cobaan seberat itu datang kepada orang lemah seperti saya?

Karena terasa seperti main-main saja, sesungguhnya saya tidak terlalu menaruh perhatian terhadap tawaran itu. Selintas lalu saja. Maka ketika tiba proses jajak pendapat calon pemimpin, saya panik. Ketidakpercayaan diri saya tampak jelas. Dari wawancara yang menye-menye seperti itu, tentu akhirnya saya gagal menjadi pemimpin.

Baiklah, mengenai topik tentang kepribadian dan kepercayaan diri saya yang bermasalah mungkin bisa dibahas dalam kesempatan lain. Sekarang saya ingin menyorot fenomena yang saya angkat dalam judul tulisan ini. Tak dinyana tak diduga, saya yang sudah pasrah tidak mau mencalonkan diri, tiba-tiba terpukul dengan keputusan musyawarah tersebut. Dan lebih dari 80% alasan keterpurukan saya pasca pemilihan ketua umum- yang menguras air mata itu, adalah fakta bahwa saya gagal mendapat jabatan apapun di saat teman-teman saya yang lain diberi amanah memangku beban lebih tinggi selama setahun ke depan.

Apa-apaan, tanya logika saya terhadap hati dan ego pribadi yang merengek manja seperti anak kecil meminta dibelikan permen. Sudah jelas saya tidak mampu, kenapa juga saya tidak bisa mengikhlaskan dan menerima dengan lapang dada seperti seorang pemenang sejati. Penyebabnya, bagi saya sendiri, adalah karena ego saya merasa menjabat sebagai ketua memang ‘sepenting’ itu. Menjabat sesuatu, tak ubahnya seperti alasan eksistensi keberadaan saya. Jika tidak, maka saya akan menjadi orang-orang biasa yang di mata ego tersebut berada pada kasta Sudra saja.

Buat apa jadi ketua?
Mengapa saya sebegitu keras menyesali takdir bahwa saya tidak berhasil menjabat di kepengurusan kali ini? Padahal berkontribusi saja jarang, punya bakat dan kapabilitas juga tidak. Lalu apa yang mau saya usung? Bukankah dengan begitu saya tidak ada bedanya dengan pejabat yang ongkang-ongkang kaki di kursi DPR? Kalau mereka begitu bersikukuh menginginkannya demi fulus yang berlimpah, lalu bukankah saya juga menginginkannya demi benda abstrak nan rapuh yang bernama popularitas?

Sepengamatan saya, selalu ada kata “Wah” yang tersirat atau bahkan tersurat kepada orang bersangkutan yang menerima jabatan sebagai ketua. Sebab, menjadi ketua bisa dianggap sebagai indikasi bahwa mereka mampu dan amanah untuk mengemban jabatan tersebut. Kekerenan yang melekat pada pribadi ketua ini, alhasil membuat orang-orang berusaha mengejarnya, sekedar untuk menyandang predikat.

Saya rasa, budaya kepemimpinan terus bergeser. Orang-orang tak lagi ingin menjabat pemimpin karena mereka mencitai yang mereka pimpin, bukan lagi karena cita-cita akan perbaikan dan kemajuan , tapi untuk ambisi pribadi. Padahal apa yang bisa didapat dari ketenaran yang fana?

Sementara tanggug jawabnya akan mengintai kita sampai akhir hayat. Pertanggung jawabannya tidak berhenti sampai eval atau laporan LPJ belaka, tapi hingga kelak di akhirat akan dipertanyakan apa yang telah kita lakukan terhadap amanah kita. Pahalanya tentu akan berlipat jika kita mampu dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab memegang jabatan kita, tapi begitupun dengan konsekuensi apabila kita lalai terhadapnya.

Menjadi pemimpin memang bukan sesuatu yang mudah. Mengakomodasi kepentingan dan keinginan anggota yang banyak dan beragam bukanlah pekerjaan yang ringan. Tapi menghindarinya juga bukan hal yang tepat. Jika memang siap, mau terus belajar dan berkomitmen, menjadi pemimpin adalah hal yang pantas dicoba. Bagaimanapun juga, pemimpin akan memperoleh banyak pelajaran yang umumnya tidak akan didapat oleh para anggotanya. Tapi menginginkannya sekedar untuk meraup popularitas sejak awal tentu merupakan niat yang salah.

Pada akhirnya, pemimpin adalah satu-satunya orang yang mampu bertahan di tengah gempuran ketidakpercayaan, di saat semua orang lain kehilangan keyakinan akan mimpi dan cita-cita yang pernah dirajut bersama,di saat tidak ada lagi yang sanggup membubuhkan janji untuk berkomitmen. Pemimpin adalah orang yang bisa membangunkan ketika rekan-rekan yang lain lemah, menyuntikkan semangat ketika kawan-kawannya mulai hilang kepercayaan dan menemukan jalan kembali ketika apa yang dibawanya sudah menelikung jalur yang dituju. Dan ‘jabatan’ pemimpin itu bukan untuk dicari tapi akan mendatangi kita ketika kita memang siap dan mampu untuk mengembannya di punggung kita.

Debat dan (ehm) Ganja?

Hoopla. Back to life.

Alkisah, kira-kira seminggu yang lalu gue dilibatkan sebagai panitia proyeknya ISMAFARSI (Ikatan Senat Mahasiswa Farmasi), untuk bantuin bikin acara lomba debat gitu. Konsepnya simpel, semacam lomba debat anak-anak farmasi dengan topik seputar kefarmasian juga, dalam cakupan kecil skala Bandung aja.

Well, gue jelas bukan orang yang paham dan malang melintang dalam dunia perdebatan, seinget gue debat terakhir gue tuh pas SMA, itu pun secara ngasal. Gue bahkan masih bodoh, bisa dibohongi tim lawan yang membawa data palsu. Selugu itu.

Tapi debat selalu menarik buat gue, karena gue nona sinetron Indonesia yang seneng ngeliat orang berantem dan saling me-nyolot-i satu sama lain. Dan debat memberikan jalan yang legal dan sah untuk melakukan itu. Haha, seneng aja gue kalo harus ngedebat orang lain dan ngeles dari pernyataan lawan.

Nah, singkat cerita gue direkrut kan nih buat bantuin tim konten materinya. Dengan pengetahuan tentang aturan debat yang seadanya dan riwayat di dunia perdebatan yang juga seadanya jujur gue agak kelimpungan. Untung ada temen gue yang udah sering debat bahasa Inggris pas SMA. Nah dia ini jago bet, dulu juga sering jadi best speaker di lomba debat. Wow banget kan, secara gue ngomong bahasa sendiri aja belepotan nah temen gue ini dengan bahasa Inggris bisa ngajak ribut orang lain. Super sekali. Thanks to her, gue dapet gambaran tentang kriteria penjurian, sistem debat dan aturan remeh temeh lain yang bagi gue sepele tapi ternyata penting.

Akhirnya, tiba juga hari-H, peserta siap, panitia siap. Gue bagian briefing juri. Nah jurinya ini ada 3, dari kalangan akademisi (dosen), dari profesional farmasi sama dari mahasiswa forum debat di kampus gue. Pas briefing, gue lumayan kaget pas ibu dari profesional (BPOM) ini nanya tentang urutan pembicara pas debat. Hah? Segak tau itukah? Langsunglah gue briefing tuh si ibu, dengan penekanan penilaian di sana-sini dan dengan list forum penilaian sedetail mungkin pokoknya.

Well, sejujurnya gue mau banget nyeritain detail acara debatnya, mulai dari kekonyolan para juri sampe ratapan duka para panitia yang harus menekan budget anggaran semiskin mungkin. Ada juga anak farmasi kampus lain, yang gayanya sumpah sok asik banget. Mungkin tuntutan job dia sebagai debater sejati kali ya, tapi serius seperlu itukah mukanya mendiskreditkan lawan? Haha, pendek katanya tuh orang terlahir dengan bakat ngajak berantem orang, mulai dari struktur muka, tutur kata, gaya bicara, bahkan gaya dia merapikan pakaiannya. Ini membuat gue sadar bahkan bakat jadi preman bisa dimanfaatkan untuk hal positif, seperti jadi juru debat misalnya. Ada  juga yang punya gaya debat ala ceramah atau khotib jumat, yang selalu bikin gue sukses ketawa karena selalu menambahkan kata-kata “Ingatlah itu!” di akhir paragrafnya.

Tapi bukan itu yang merisaukan hati gue. Melainkan mosi debat. Entah mengapa ini selalu jadi topik tabu dalam lomba debat, terutama lomba debat farmasi. Soalnya susah nyari topik yang nggak berat sebelah di bidang farmasi. Sementara topik yang beda sebelah tentu riskan dong buat salah satu tim, baik itu tim pro ataupun kontra. Berikut gue beberkan mosi debat babak penyisihan:

  1. Penggunaan PPCPs (Pharmacetical and Personal Care Product) harus diminimalisir karena banyak menimbulkan efek buruk terhadap lingkungan.
  2. Target industri farmasi seharusnya adalah pemenuhan kebutuhan obat untuk masyarakat bukan malah target ekspor ke luar negri.
  3.  Dengan semakin meningkatnya kebutuhan akan obat di negara kita, kurikulum pendidikan farmasi harus disusun ke arah teknologi pembuatan obat.
  4. Haruskan ketentuan tentang obat originator/obat paten diubah/dihapus
  5. Pemanfaatan bahan alam di Indonesia sebagai bahan obat meningkat seiring dengan beredarnya isu back to nature.

Buat babak semifinal, isu mosinya itu: Industri farmasi Indonesia siap terlibat dalam pasar bebas ASEAN-China 2015. Nah hot issuenya ini adalah pas di babak final, karena isunya adalah:

LEGALISASI GANJA UNTUK INDUSTRI FARMASI

Oh iya FYI, isu mosi ini udah digali dari berbagai sumber sama anak-anak tim materi dan divalidasi sama dosen. Kadiv gue dari jauh-jauh hari tanpa bosan mewanti-wanti kami anak buahnya untuk mencari mosi yang tidak imbang sebelah.

Nah buat gue sendiri sih, debat finalnya berjalan lancar. Tim pronya mahasiswa tingkat atas, mereka bilang ganja mengandung senyawa cannabinoid, anti depresan yang bagus dengan efek samping minimum dibandingkan yang lain. Udah gitu juga dibahas tentang perlindungan senyawa obat golongan narkotik dan lain-lain. Dan tim kontra tentu saja, mempertanyakan keabsahan aturan ini. Ada juga yang sempat bilang sudah ditemukan senyawa antidepresan yang bagus dibandingkan ganja, seperti ekstrak kulit pisang. Gue gak ngerti lagi deh ternyata perkembangan industri farmasi udah sejauh ini, atau tim kontranya udah bingung sendiri.

Tapi yang epik adalah komentar para juri dari kalangan profesional. Mereka menyudutkan tim pro dengan mengatakan bahwa legalisasi ganja itu tidak mungkin. Pemerintah saja sampai sekarang masih kesulitan mengani perdagangan gelap ganja, apalagi kalo legal, selain itu ganja bukan antidepresan yang bagus dan sebagainya. Cuma juri dari kalangan aktivis debat yang memberikan pandangan objektif dari kedua belah pihak. Sedihnya adalah karena para juri itu membicarakan realita, padahal ini lomba debat dan bukan jajak pendapat. Bahkan si ibu tersebut di akhir acara sempat berkomentar,”Ya saya ini kan dari kalangan pemerintah, masak saya memenangkan yang mau melegalkan ganja”. Sungguh.Jujur. Gue. Miris.

Gue gak mau berkomentar lebih jauh tentang si ibu ini. Melihat tidak terlalu pahamnya beliau dengan teknis lomba debat, seperti terbukti dengan pertanyaan beliau di awal cerita, gue rasa wajar beliau berpikir demikian. Belum lagi tekanan beliau di dunia kerja yang gue juga gak tahu.

Tapi yang mau gue singgung lebih jauh adalah masalah legalisasi ganja. (Wah, cukup panjang ya gue basa-basinya)

Pas kadiv gue bilang mosi ini digunakan untuk final, sesungguhnya gue langsung bilang,”Emang gak susah buat pronya ya?”

Katanya sih topik ini sempat dibawa ke parlemen Amerika. Dalam rangka apa, gak tau juga sih ->ketauan males nyari. Tapi gue inget persinggungan gue dengan legalisasi ganja ini pas gue sama temen-temen gue lagi ke Gramedia. Salah satu temen gue yang mau berangkat ke Belanda, waktu itu sambil bercanda bilang, takut bakal kecanduan, karena orang-orang menanam ganja untuk dirinya sendiri, bahkan ada di pot-pot di halaman rumah. Secara di Belanda ganja kan legal.

Nah, tiba-tiba muncul lah entah darimana buku berjudul: Hikayat Pohon Ganja, karya tim LGN a.k.a tim legalisasi ganja. Lebih lanjut mungkin bisa cari di google.

Waktu itu gue cuma sempet baca sinopsis belakangnya doang. Temen gue yang cukup gaul berbaik hati untuk menjelaskan tentang sinyalemen isu ilegalisasi ganja yang dipicu sama orang Amerika. Katanya kayu pohon ganja ini kayu terbaik, obat yang bisa dihasilkan bagus, dan manfaatnya di bidang industri juga besar. Nah makanya orang Amerika mau make ganja buat dirinya sendiri, jadilah dampak buruk ganja, sebagai zat adiktif dan narkotiknya digembar-gemborkan supaya orang-orang gak mau membudidayakan ganja.

Seinget gue waktu itu, gue cuma manggut-manggut doang. Dan sebagai mayoritas remaja Indonesia yang sehat gue gak mau capek-capek mikirin hal begituan. Tentu ftv dan sinetron remaja lebih menarik. Tapi tak urung, ini membuat gue penasaran juga. Emang bener?

Nah, dari http://www.legalisasiganja.com/, gue dapet info bahwasanya ganja memang berperan dalam dunia medis. Versi kutipan mentahnya kira-kira:

Tanaman ganja secara keseluruhan, termasuk kuncup, daun, biji, dan akar, semuanya telah digunakan sebagai ramuan obat sepanjang sejarah. Meskipun batasan hukum yang tegas dan hukuman pidana berat untuk penggunaan terlarang, ganja semakin banyak digunakan di Amerika Serikat dan di seluruh dunia, baik untuk sifat-sifatnya mengubah suasana hati dan penerapannya sebagai obat-obatan yang telah terbukti. Diskusi mengenai manfaat ganja dari segi keamanan dan efektivitas sangat bermuatan politis.

Marijuana telah terbukti sebagai obat analgesik, anti muntah, anti-inflamasi, penenang, anticonvulsive, dan tindakan pencahar. Studi klinis telah menunjukkan efektivitas ganja dalam mengurangi mual dan muntah setelah kemoterapi untuk pengobatan kanker. Tanaman ini juga telah terbukti mengurangi tekanan intra-okular di mata sebanyak 45%, dalam pengobatan glaukoma. Cannabis telah terbukti sebagai anticonvulsive, dan dapat membantu dalam merawat penderita epilepsi. Penelitian lain telah mendokumentasikan sebuah in-vitro efek penghambat tumor THC. Marijuana juga dapat meningkatkan nafsu makan dan mengurangi rasa mual dan telah digunakan pada pasien AIDS untuk mencegah penurunan berat badan serta efek lain yang mungkin timbul dari penyakit ini. Dalam sebuah studi penelitian beberapa kandungan kimia dari ganja menampilkan aksi antimikroba dan efek antibakteri. Komponen CBC dan d-9-tetrahydrocannabinol telah terbukti dapat menghancurkan dan menghambat pertumbuhan bakteri streptokokus dan staphylococci.

Ganja mengandung senyawa kimia yang dikenal sebagai canabinoid. Jenis canabinoid yang berbeda-beda memiliki efek yang berbeda pula pada tubuh setelah di konsumsi. Penelitian ilmiah mengindikasikan bahwa zat ini mempunyai nilai potensi terapi untuk menghilangkan rasa sakit, kontrol mual dan muntah-muntah, serta stimulasi nafsu makan. Zat aktif utama ganja yang teridentifikasi sampai saat ini adalah 9-tetrahydro-cannabinol, yang dikenal sebagai THC. Bahan kimia ini kemungkinan mengandung sebanyak 12% dari bahan kimia aktif dalam ramuan, dan memberikan pengaruh sebanyak 7-10% dari akibat yang di timbulkan seperti rasa gembira, atau “high” yang dialami saat mengkonsumsi ramuan ganja. Kualitas ramuan “euforia” ini tergantung pada saldo bahan aktif lain dan kesegaran bahan ramuan. THC ter-degradasi ke komponen yang dikenal sebagai cannabinol, atau CBN. Kimia aktif ini relatif tidak menonjol dalam ganja yang telah disimpan terlalu lama sebelum digunakan. Komponen kimia lain, cannabidiol, atau dikenal sebagai CBD, memiliki efek sedatif dan analgesik ringan, dan memberikan kontribusi ke somatic heaviness yang kadang-kadang dialami oleh pengguna ganja.

Pelarangan/prohibition
Sebelum adanya larangan, ganja direkomendasikan untuk pengobatan gonore, angina pektoris (konstriksi nyeri di dada karena darah tidak cukup untuk jantung), dan cocok untuk mengatasi tersedak. Ganja juga dapat digunakan untuk mengatasi insomnia, neuralgia, reumatik, gangguan pencernaan, kolera, tetanus, epilepsi, keracunan strychnine, bronkitis, batuk rejan, dan asma. Kegunaan lain adalah sebagai phytotherapeutic (nabati terapeutik) termasuk pengobatan borok, kanker, paru-paru, migrain, penyakit Lou Gehrig, infeksi HIV, dan multiple sclerosis.

Wah, sebenernya jujur gue gak paham, dan gak juga mendukung legalisasi ganja karena well, gue emang gak punya ilmunya. Tapi intinya gue pengen bilang, OPEN MINDED lah. Dunia terus berputar, ilmu pengetahuan terus berkembang, kenapa kita membatasi diri sekedar dengan apa yang kita tahu saja?

Me and The-so-called-pharmacy-students-life

Sebagai seorang yang hidup santai-santai dan lazy-born a.k.a malas bawaan lahir *alasan, masuk ke fakultas farmasi adalah sebuah gambling. Pertaruhan penuh resiko. Kecuali lo mau berubah, lo gak mungkin lulus, kecuali dengan belas kasihan jika dan hanya jika dosen farmasi lo memang berbelas kasih.

Di tahun pertama gue kuliah, gue menghadapi tahap persiapan bersama, yang artinya gue belajar pelajaran-pelajaran SMA semacam matrikulasi begitu. Tahun pertama itu hidup penuh kebahagiaan. Lo bisa bergerak aktif sebagai remaja, ikut kegiatan ini, ikut kegiatan itu. Lo masih bisa lulus walaupun baru inget belajar sehari sebelum UTS. SKS cuma 18. Dosen penuh kebijakan, atau dalam konteks tertentu, ketidakpedulian. Lo belajar hal yang sama dengan teman-teman di fakultas lain, sehingga kalau ngobrol-ngobrol, seenggaknya masih nyambung. UTS juga waktunya sama. Keteraturan hidup, itu mungkin istilah yang tepat untuk menggambarkan tahapan tersebut.

Berlanjut ke tingkat 2. Well, sejujurnya sih gue gak kaget-kaget banget. Hidup memang terus berpacu. Gue ambil 22 SKS, lebih berat memang tampaknya; tapi 2 SKS agama dan 2 SKS PKn, semacam pelajaran hura-hura mungkin. Pelajaran farmasi yang gue dapet semester ini, antara lain:

Botani Farmasi

Kimia Organik

Anatomi Fisiologi Manusia I

Farmasi Fisika I

Mikrobiologi Farmasi

Analisis Farmasi Anorganik

Berhubung gue ini anak biologi, gue bisa melalui semester ini dengan lancar. Walau memang farmasi bikin bosen dan capek kadang-kadang hingga gue memutuskan untuk cabut kuliah *please don’t try this at college. Praktikum sesungguhnya 4 mata pelajaran, tapi 2 hanya dilangsungkan 2 kali seminggu, jadi istilahnya mah tetep 3 x seminggu. Pengetahuan gue tentang biologi (yang sebenernya terlalu dangkal untuk orang yg berkecimpung hampir 3 tahun di dalamnya) membuat gue masih bisa menarik perhatian dunia pergaulan.

Semester 3 yang usai, berganti semester baru. Pelajaran gue semester ini:

Mikrobiologi Analisis

Anatomi Fisiologi Manusia II

Farmakognosi Umum

Farmasi Fisika II

Statistika Farmasi

Dasar-dasar Sintesis Obat

Patofisiologi

Farmasi Lingkungan

Emang cuma 20 SKS, lebih dikit dari semester lalu. TAPI, capek gila. Gue praktikum 3x seminggu, dari jam 1 siang dan semuanya hampir selalu selesai jam 6 kurang, bikin sholat ashar selalu mepet ama maghrib. Bikin gue lari-lari ke musholla terdekat buat sholat, dan kadang sampe lupa lepas jaslab.Semua mata kuliah mulai caper, pengen diperhatiin, pengen membuat gue memprioritaskan mereka seolah-olah gue cuma ngambil mata kuliah itu doang. Persiapan praktikum, bikin laporan, diskusi a.k.a asistensi, ngerjain tugas. Bikin aja seolah-olah 24 jam itu masih kurang. Woy, emang hidup gue kuliah doang? Gue juga punya kehidupan lain, begitu hati kecil gue berbicara.

Ah iya, dosen. Seperti main game adventure, gue dihadapkan sama dosen-dosen baik dulu. Sekarang gue dihadapkan pada dosen-dosen dengan arogansi dan sensitivitas tinggi, dosen jenius dan rajin, yang sedihnya juga mengharapkan gue sebagai mahasiswa punya kualifikasi  sama seperti mereka. HOW ON EARTH?

Gue gak bisa lagi telat kalo kuliah jam 7, gak bisa lagi sembarangan cabut sesuka gue karena bisa-bisa gak dibolehin UTS. Gak bisa lagi nyantai-nyantai dapet ikan kayak mancing, karena sekarang gue dibombardir dengan pelajaran FISIKA dan KIMIA yang kapasitas gue menguasainya adalah limit mendekati nol.

Gue berpikir seperti itu. Berpikir dengan cara pandang konyol kayak gitu. membuat gue seolah-olah orang termalang di seluruh dunia. Membuat gue yang mengambil kegiatan lain di sela-sela kuliah seolah-olah heroik karena bisa mengatur waktu antara kuliah dengan nonakademik.

Padahal, kalau saja gue gak berpikir cengeng, orang-orang di sekitar gue gak mengeluh. Anak-anak farmasi lain tuh tetep struggling. Ngejar impian mereka dan mereka mampu. Apply international conference, Model United Nation, ikut lomba farmasi sampai lomba non kefarmasian, aktif di unit dan kemahasiswaan terpusat. Kalau jeli, mereka juga bisa dan sesungguhnya gue belum melakukan hal yang cukup.

Menjadi mahasiswa farmasi, membuat gue sadar kalo kita emang berbeda. Kita dipacu berpikir terus dalam konteks baku. Belajar bahwa tidak ada toleransi dalam tiap kesalahan, karena segelintir cacat bisa berbuah kematian. Sekedar alpa bisa membahayakan orang lain. karena kita adalah mahasiswa farmasi, yang bergerak untuk pengabdian pada masyarakat. karena kita memproduksi obat.

Gue juga belajar, ada banyak bidang ilmu yang harus gue kuasai. Gue belajar biologi, kimia, fisika, psikologi, tata tulis, bahkan sampe kewirausahaan. Kalau cerdas, harusnya gue bisa berpikir secara holistik. Gue harusnya bisa lebih ktitis.

Jadi anak farmasi, gue belajar bergelut dalam kehidupan. Gue belajar kita harus berusaha lebih dibandingkan orang lain untuk menggapai sesuatu karena kita gak punya waktu. Kita belajar untuk lebih mendengar untuk bisa tau. Belajar lebih peduli untuk bisa mengerti.

Ada kalanya memang, kesulitan ini membuat orang menyerah. Ya udah, gue jadi anak farmasi yang baik aja, rajin belajar, lulus tepat waktu. Tapi entah mengapa, gue merasa itu adalah pikiran yang salah. Baiklah, hidup memang pilihan tapi ketika lo bisa memberi manfaat lebih, kenapa nggak?

Sekarang, gue emang ga ngerti lagi cara mengatur hidup gue. Kamar berantakan, kapal pecah bener-bener secara definitif karena gue stress dengan keteraturan dan hanya ingin membiarkannya berantakan. Jam biologis gue berubah, gue jadi lebih nokturnal. Makan gak teratur, yang ironis karena menurut pandangan gue, kita yang mahasiswa kesehatan malah bikin jadi gak sehat. Kalau ada tugas organisasi akhirnya selalu ngedeadline, selalu buru-buru.

Tapi gue bahagia kok. Karena gue melalu hidup penuh perjuangan yang gak dialami sama semua orang. Karena gue mencicipi kehidupan penuh tantangan, penuh perang pemikiran.

Karena gue bisa bertahan dalam kehidupan gue sebagai mahasiswa farmasi.

About Me

Gak ngerti juga kenapa gue tiba-tiba nulis hal kayak gini. Ceritanya gue mencoba menjadi seorang blogger sampah sejati, yang melaporkan segala hal dengan hati (WTH???). Haha ya pada akhirnya gue bener-bener mau menjadikan blog ini sebagai area menyampah gue, gak ada kebohongan, gak ada kepura-puraan. Semata-mata buat curhat-curhat manja. Seru banget ternyata, karena kayak lo punya sesi curhat sendiri, dengan audience yang -gue-tahu-sebenernya-gak-ada. Haha ->lvl. forever alone.

Back to topic.

Gue mencoba mendeskripsikan diri gue. Gue adalah mahasiswi semester empat, jurusan farmasi, di universitas yang cukup ternama, yang namanya sering disangkutpautkan dengan kata-kata ‘terbaik’, pheww I don’t know why. Yah somewhere in Bandung (Did I make it too obvious? Iya yang lambangnya gajah itu). Gue adalah orang yang sangat suka berlari mengejar hidup gue, bukan karena gue punya mimpi untuk dikejar, tapi semata-mata karena gue gak punya respect terhadap waktu dan punya ketergantungan tinggi untuk tidak mengecewakan orang lain- dimana gue akhirnya harus berlari dari satu tempat ke tempat lain –just to make it on time.

Gue adalah orang yang bergerak dalam bidang jurnalistik, tulis menulis. Orang awam bilang tulisan gue bagus tapi orang yang bener-bener menguasai perliteraturan pasti paham kalo gue nulisnya serampangan, gaya-gayaan doang. Dan entah mengapa orang-orang mengharapkan gue punya blog, yang selalu gue jawab ‘nggak gue gak punya.’ Simply karena gue sadar kalo blog gue ditemukan dan orang-orang baca, akan terpapar ke dunialah, kesampahan gue di dunia jurnalistik.

Gue adalah orang yang absurd, suka merepotkan diri sendiri padahal ga suka repot. Menghindari hubungan dengan orang lain padahal sebenernya butuh orang lain. Mencintai kedamaian, lebih dari apapun.

Gue jelas bukan tipe penguasa rantai makanan, tingkatan gue semacam dekomposer, yang menghabiskan sisa. Tapi tunggu gue gak sebaik dan selemah itu juga, mungkin semacam oportunis level konsumen tingkat I. (Gak ngerti lagi, ini gue ngomong apa sebenernya).

Dan, gue punya pencitraan sebagai orang yang diam dan tenang dan jutek somehow, which is not karena sebenernya gue lemah tapi emang kadang nyolot. Gue juga punya aura bisa diandalkan, which is not, karena sebenernya gue gak berkualifikasi. Tetapi gue menyembunyikan siri yang sebenernya, karena demand dari pergaulan.

Sebelum ini menjadi terlalu sentimentil, agaknya harus gue akhiri. Ya, sekian tentang gue. Since I’m not making CV to apply something, I’m not making this interesting or what. Just pure ordinary me.

Ya dan karena gue nampaknya akan menghabiskan waktu mengeluh bodoh disini, jadi mohon bantuannya ya wahai wordpress. See you around :))))))!  

Gak Papa kok Masuk Farmasi

Nah…

Haha ceritanya gue mau melawan stereotip masyarakat a.k.a veteran mahasiswa farmasi yang nggak menganjurkan (baca:jangan) masuk fakultas farmasi. Tapi gue masih gak ikhlas gimana gitu kalo nulis ayo masuk farmasi karena gue masih gak ngerti logika orang normal yang beneran pengen banget masuk farmasi dalam keadaan sadarnya. Seriosly WHY?

Haha tapi jangan diambil serius ya karena gue mikir hal yang sama buat jurusan kayak teknik kimia, teknik industri and so on. Maksud gue, teknik kimia gitu, terus bedanya apa sama kimia dan bahkan pelajarannya jauuhhhhhh lebih susah. Tapi kan tetep kimia.
Sebagai simple minded, gua pikir pekerjaan tanpa spesifikasi dan nanggung kayak gitu, membingungkan. Bikin gue pengen nanya, TERUS ngapain?
Alhamdulillah ya orang kayak gue gak dijadiin pejabat negara.

~yaa OUT of topic deh…

Kembali ke persoalan farmasi.
Farmasi gak ada hapalan itu dusta besar. Farmasi gak ada lab dan praktikum, jangan-jangan lo cuma kuliah farmasi di sinetron Indonesia yang notabene gak-pernah-diliatin-kuliah-dan-cuma-hurahura-aja.
Tapi hidup emang penuh perjuangan kan?

Jadi dokter, masuk fk juga gak gampang. Kuliah di teknik juga susah. Kuliah di seni, sosial, sastra, meeen semua sama aja beratnya. Manusia harus berusaha keras untuk mencapai taraf hidup lebih baik (btw taraf hidup gak meliputi harta aja loh yaa).
Nah itu penjelasan cerdas dari gue -> ya maap dah kalo gak memuaskan.

Haha, faktanya selama lo enjoy, lo bakalan baik-baik aja. Hidup gue di farmasi emang hectic, tapi gak menutup kemungkinan gue buat bergerak secara aktif (kok gue kayak iklan pembalut). Banyak anak farmasi di kampus gue yang jago mengatur waktu dan seimbang antara akademik dan kegiatan eksternalnya. Ada yang sempet marching band, ikut orkestra, jadi kadiv atau ketua kepanitiaan sampai aktif di kemahasiswaan terpusat. Sederhananya, selama lo suka, itu gak bakalan jadi beban.

Gue pribadi, walaupun sempat mengutuk keberadaan gue di farmasi, ternyata akhirnya gue suka juga sama pelajarannya. Menurut gue adalah keajaiban apa yang diciptakan Tuhan dalam bentuk interaksi kimia senyawa dan sel tubuh kita. Gue pribadi mikirnya, gue belajar sesuatu yang nyata, sesuatu yang terlibat dan benar-benar ada dalam pergerakan hidup kita. Setelah gue belajar botani farmasi, gue ngerti tanaman apa aja yang punya manfaat buat kita. Pas gue belajar analisis farmasi gue bisa terpukau dengan reaksi antar zat kimia yang simply stunning. Pas gue belajar mikrobiologi farmasi, gue berhasil ngerti jalur sesorang bisa jatuh sakit dan bagaimana penyembuhannya. Gue diajarkan mengenai rahasia-rahasia kehidupan yang selama ini seakan disembunyikan dari gue.

Well, emang bener banyak temen-temen gue juga ngeluh. Tapi pikirin deh, jangan pernah belajar secara parsial, setengah-setengah, bab per bab. Pelajari secara holistik, keseluruhan, biar gampang dimengerti (setidaknya gue sih gitu ya haha).

Dan… belajarlah gak cuma dengan otak, tapi dengan hati. Ketika hapalan obat susah mampus, pikirin bahwa lo gak cuma belajar buat diri lo sendiri, tapi juga buat orang-orang yang kelak membutuhkan racikan obat dari lo, atau bahkan sekedar butuh konsultasi kesehatan.
Ya buat gue sih, itu sangat mulia.

Lanjut. Btw, keluhan gue juga nih, farmasi emang seret cowok. Sumpah, bagian ini emang malesin banget, kuliah berasa arisan ibu-ibu. Gue juga bingung sih, kenapa cowok gak mau masuk farmasi sih. Menurut gue kualifikasi logika kefarmasian cocok aja buat cowok. Apa karena farmasi banyak hapalan, rempong kali ya jeng buat kaum pria.

Tapi gak akhir dunia sih, sama aja kan kayak teknik yang miskin wanita. Bisa subsidi silang lah ya, hahaha.

Berhubung gue masih semester tiga, gue gak terlalu tahu sih soal gaji, tapi emang stereotipnya apoteker tuh kayak asisten dokter, jadi eksistensinya di rumah sakit gak signifikan. Berhubung gaji membuntuti eksistensi ya jadinya sih farmasi gajinya biasa aja. Ada yang bilang gak sebanding sama kuliahnya.

Kembali (ceramah) lagi deh gue, balik ke niat juga kan. Lagian sekarang gencar kok meningkatkan peran apoteker di rumah sakit, buat kontrol malpraktek juga. Menurut gue kesananya eksistensi apoteker bakal meningkat. Terusan gue pernah denger juga, “Gak pada tempatnya farmasis mengharapkan gaji gede di rumah sakit, karena itu lahannya dokter. Kalo mau gaji gede ya kerja di industri, itu baru lahannya farmasis.”
Hm, makes sense sih menurut gue.

Ah… (capek juga ya ngetik panjang-panjang). Eh, gue sekilas info lagi ya, ternyata gak cuma gue lo yang masuk farmasi karena hilang arah. Banyak juga temen-temen gue yang tadinya mau masuk kedokteran terus beralih farmasi kayak gue *dan sempet nangis bombay juga kayak gue, ahahaha.

Yah, tapi sekarang sih gue udah move on. Gue sadar gue bukan pengen jadi dokter dengan hati, tapi karena buat gue masuk fk adalah pencapaian. Picik ya, untung gue gak jadi masuk. Untung Allah menyelamatkan calon-calon pasien yang terancam jadi korban malpraktik gue 😀

Daan, akhirnya gue sadar bahwa gue emang gak orientasi pasien banget. Gak gak kuat deh gue kalo harus menghadapi keluhan pasien tiap hari, dan gue baru nyadar ya orientasi gue tuh penelitian banget. Gue sekarang sudah mengarah ke industri dan gue bener-bener pengen banget bisa menciptakan obat baru. Oh iya, bagi info nih, sebagai farmasis, satu racikan obat lo bisa bermanfaat bagi banyak banget orang, wow banget gak sih? Pekerjaan yang meninggikan derajat lo sebagai manusia juga.

Pesan moral gue pada akhirnya adalah bersyukur. Btw, kalo emang beneran pengen banget dokter gak papa, keep going aja, ikut tes lagi tahun depan. Kalo itu memang bener-bener tujuan hidup lo, rengkuh. Raih. Gapai. ~jangan menyerah- D massive

Kalo gue sih, udah bahagia disini, kuliah di farmasi. Gak papa kok kuliah di farmasi, beneran sumpah lah. Yaa buktinya banyak juga kan yang mau masuk tiap tahunnya, secara jadi apoteker kan mapan haha <- sendirinya niat gak bener.

Being a pharmascist is fun indeed. Mahasiswa kesehatan emang gak terlepas dari menyelamatkan kehidupan, entah lo dokter, apoteker, suster, atau apapun yaaa kan cuma beda spesifikasinya aja 😉