Gak Papa kok Masuk Farmasi

Nah…

Haha ceritanya gue mau melawan stereotip masyarakat a.k.a veteran mahasiswa farmasi yang nggak menganjurkan (baca:jangan) masuk fakultas farmasi. Tapi gue masih gak ikhlas gimana gitu kalo nulis ayo masuk farmasi karena gue masih gak ngerti logika orang normal yang beneran pengen banget masuk farmasi dalam keadaan sadarnya. Seriosly WHY?

Haha tapi jangan diambil serius ya karena gue mikir hal yang sama buat jurusan kayak teknik kimia, teknik industri and so on. Maksud gue, teknik kimia gitu, terus bedanya apa sama kimia dan bahkan pelajarannya jauuhhhhhh lebih susah. Tapi kan tetep kimia.
Sebagai simple minded, gua pikir pekerjaan tanpa spesifikasi dan nanggung kayak gitu, membingungkan. Bikin gue pengen nanya, TERUS ngapain?
Alhamdulillah ya orang kayak gue gak dijadiin pejabat negara.

~yaa OUT of topic deh…

Kembali ke persoalan farmasi.
Farmasi gak ada hapalan itu dusta besar. Farmasi gak ada lab dan praktikum, jangan-jangan lo cuma kuliah farmasi di sinetron Indonesia yang notabene gak-pernah-diliatin-kuliah-dan-cuma-hurahura-aja.
Tapi hidup emang penuh perjuangan kan?

Jadi dokter, masuk fk juga gak gampang. Kuliah di teknik juga susah. Kuliah di seni, sosial, sastra, meeen semua sama aja beratnya. Manusia harus berusaha keras untuk mencapai taraf hidup lebih baik (btw taraf hidup gak meliputi harta aja loh yaa).
Nah itu penjelasan cerdas dari gue -> ya maap dah kalo gak memuaskan.

Haha, faktanya selama lo enjoy, lo bakalan baik-baik aja. Hidup gue di farmasi emang hectic, tapi gak menutup kemungkinan gue buat bergerak secara aktif (kok gue kayak iklan pembalut). Banyak anak farmasi di kampus gue yang jago mengatur waktu dan seimbang antara akademik dan kegiatan eksternalnya. Ada yang sempet marching band, ikut orkestra, jadi kadiv atau ketua kepanitiaan sampai aktif di kemahasiswaan terpusat. Sederhananya, selama lo suka, itu gak bakalan jadi beban.

Gue pribadi, walaupun sempat mengutuk keberadaan gue di farmasi, ternyata akhirnya gue suka juga sama pelajarannya. Menurut gue adalah keajaiban apa yang diciptakan Tuhan dalam bentuk interaksi kimia senyawa dan sel tubuh kita. Gue pribadi mikirnya, gue belajar sesuatu yang nyata, sesuatu yang terlibat dan benar-benar ada dalam pergerakan hidup kita. Setelah gue belajar botani farmasi, gue ngerti tanaman apa aja yang punya manfaat buat kita. Pas gue belajar analisis farmasi gue bisa terpukau dengan reaksi antar zat kimia yang simply stunning. Pas gue belajar mikrobiologi farmasi, gue berhasil ngerti jalur sesorang bisa jatuh sakit dan bagaimana penyembuhannya. Gue diajarkan mengenai rahasia-rahasia kehidupan yang selama ini seakan disembunyikan dari gue.

Well, emang bener banyak temen-temen gue juga ngeluh. Tapi pikirin deh, jangan pernah belajar secara parsial, setengah-setengah, bab per bab. Pelajari secara holistik, keseluruhan, biar gampang dimengerti (setidaknya gue sih gitu ya haha).

Dan… belajarlah gak cuma dengan otak, tapi dengan hati. Ketika hapalan obat susah mampus, pikirin bahwa lo gak cuma belajar buat diri lo sendiri, tapi juga buat orang-orang yang kelak membutuhkan racikan obat dari lo, atau bahkan sekedar butuh konsultasi kesehatan.
Ya buat gue sih, itu sangat mulia.

Lanjut. Btw, keluhan gue juga nih, farmasi emang seret cowok. Sumpah, bagian ini emang malesin banget, kuliah berasa arisan ibu-ibu. Gue juga bingung sih, kenapa cowok gak mau masuk farmasi sih. Menurut gue kualifikasi logika kefarmasian cocok aja buat cowok. Apa karena farmasi banyak hapalan, rempong kali ya jeng buat kaum pria.

Tapi gak akhir dunia sih, sama aja kan kayak teknik yang miskin wanita. Bisa subsidi silang lah ya, hahaha.

Berhubung gue masih semester tiga, gue gak terlalu tahu sih soal gaji, tapi emang stereotipnya apoteker tuh kayak asisten dokter, jadi eksistensinya di rumah sakit gak signifikan. Berhubung gaji membuntuti eksistensi ya jadinya sih farmasi gajinya biasa aja. Ada yang bilang gak sebanding sama kuliahnya.

Kembali (ceramah) lagi deh gue, balik ke niat juga kan. Lagian sekarang gencar kok meningkatkan peran apoteker di rumah sakit, buat kontrol malpraktek juga. Menurut gue kesananya eksistensi apoteker bakal meningkat. Terusan gue pernah denger juga, “Gak pada tempatnya farmasis mengharapkan gaji gede di rumah sakit, karena itu lahannya dokter. Kalo mau gaji gede ya kerja di industri, itu baru lahannya farmasis.”
Hm, makes sense sih menurut gue.

Ah… (capek juga ya ngetik panjang-panjang). Eh, gue sekilas info lagi ya, ternyata gak cuma gue lo yang masuk farmasi karena hilang arah. Banyak juga temen-temen gue yang tadinya mau masuk kedokteran terus beralih farmasi kayak gue *dan sempet nangis bombay juga kayak gue, ahahaha.

Yah, tapi sekarang sih gue udah move on. Gue sadar gue bukan pengen jadi dokter dengan hati, tapi karena buat gue masuk fk adalah pencapaian. Picik ya, untung gue gak jadi masuk. Untung Allah menyelamatkan calon-calon pasien yang terancam jadi korban malpraktik gue 😀

Daan, akhirnya gue sadar bahwa gue emang gak orientasi pasien banget. Gak gak kuat deh gue kalo harus menghadapi keluhan pasien tiap hari, dan gue baru nyadar ya orientasi gue tuh penelitian banget. Gue sekarang sudah mengarah ke industri dan gue bener-bener pengen banget bisa menciptakan obat baru. Oh iya, bagi info nih, sebagai farmasis, satu racikan obat lo bisa bermanfaat bagi banyak banget orang, wow banget gak sih? Pekerjaan yang meninggikan derajat lo sebagai manusia juga.

Pesan moral gue pada akhirnya adalah bersyukur. Btw, kalo emang beneran pengen banget dokter gak papa, keep going aja, ikut tes lagi tahun depan. Kalo itu memang bener-bener tujuan hidup lo, rengkuh. Raih. Gapai. ~jangan menyerah- D massive

Kalo gue sih, udah bahagia disini, kuliah di farmasi. Gak papa kok kuliah di farmasi, beneran sumpah lah. Yaa buktinya banyak juga kan yang mau masuk tiap tahunnya, secara jadi apoteker kan mapan haha <- sendirinya niat gak bener.

Being a pharmascist is fun indeed. Mahasiswa kesehatan emang gak terlepas dari menyelamatkan kehidupan, entah lo dokter, apoteker, suster, atau apapun yaaa kan cuma beda spesifikasinya aja 😉

(Jangan) Masuk Farmasi

Jadi gini ceritanya.

Blog ini sendiri gue buat bedasarkan pengalaman gue kira-kira satu setengah tahun yang lalu.

Somehow, gue tersesat masuk Fakultas Farmasi di salah satu perguruan tinggi ‘ternama’ (hazeekk,amin ya Allah) di Indonesia.

Sekilas berita aja ya, gak pernah sekalipun terlintas dalam 17 tahun hidup gue, untuk kuliah di farmasi. Dalam bayangan gue, farmasi tuh tempatnya mbak-mbak rajin berkacamata menuntut ilmu, melewati hari ditemani lapisan buku dan praktikum. *bentar, eh iya apa yak? Perasaan gue gak pernah mikirin jurusan ini bahkan -> no offense, sebenernya emang gue jarang mikirin hidup gue ahahaha.

Intinya, gue pikir farmasi itu sesuatu(gak-gue)banget lah.

Tapi di detik-detik terakhir hidup gue, Tuhan mengarahkan gue ke arah farmasi.
Sebenernya awalnya gue mau masuk kedokteran (kalo lo masuk farmasi, alasan ini super klise banget). Gue apply ke salah satu universitas ternama-yang lain, dan gue gagal. Men, gue diterima di kedokteran giginya. Banyak orang yg menyayangkan kenapa gak gue ambil aja, tapi ASAL lo tau aja fkg itu mahal kali dan gue sebagai anak tidak bergigi bagus ya rada tengsin juga kalo ngambil fkg.
^alasan maksanya.

Alasan benernya adalah, gue sakit hati ditolak. Sakiiiiittt, kayak lo sariawan terus ditaburi garam *oke mungkin ini gak valid sebagai perandaian, tapi sumpah sakit bed. Bayangin dong kalo lo masuk fkg dan ada temen lo di fk, lo bakal tiap hari ngeliat mereka belajar di fk sementara lo cuma bisa ngeliatin doang. Dan itu parahnya, ‘ngeliatin’ karena secara geografis, fakultas lo sebelahan.

Dengan alasan sekonyol itu, gue milih farmasi. Kenapa farmasi? Ya pokoknya waktu itu gue daftar-daftar aja kan, dan berhubung gue daftarnya di Perguruan Tinggi berbasis teknik dan gue gak suka fisika, pilihan pertama gue langsung farmasi yang gue pikir PHYSICS-FREE lah ya. Dan pengumuman ini dateng duluan daripada pengumuman fkg menyakitkan itu, jadi langsung aja deh begitu gagal gue terima. Karena simply, universitas itu gak menolak gue.
^super bego 2010.

Dan, setelah gue sadari gue bakal stay di farmasi (EMPAT tahun kira-kira) dan since farmasi itu keprofesian (berarti bakal seumur hidup gue jalani) -> gue nangis bombay. Meennn, hidup gue, masa muda gue…

Anyhow, ceritanya beberapa bulan sebelum hari pertama masuk kuliah, gue coba research tentang farmasi gitu deh. Siapa tahu banyak pengalaman menarik yang bikin gue ceria menghadapi hidup. Dan gue bisa berpikir bahwa FARMASI gak seburuk itu.

Ternyataa…
Yang ditulisin orang-orang itu cerita duka gulana mahasiswa farmasi yang layak muat di oh mama oh papa.
Kalo gak percaya, coba google sendiri ya, yang ada tuh wejangan-wejangan tolak bala supaya terhindar dari masuk farmasi.
Fakta-fakta farmasi kayak doyan ke(lab)ing, miskin kaum pria, gak ada waktu luang, dan lain-lain[sensored].

Ya Allah, apa salah gue? *Nangis bombay lagi.

Jadi begitulah keterpurukan hidup gue di awal-awal menjajaki farmasi.
Nah ceritanya lagi ya, gue pengen ngerasain masuk farmasi ‘beneran’, jadi gue bisa komentar secara ‘beneran’ juga. Biar kalau ada anak galau masuk farmasi, gue bisa menghibur dia dan menguatkan dia, “Nak, kamu masih bisa tetap hidup kok di farmasi. Apa? Bakalan di lab terus? Oh nggak kok, masih bisa tidur kira-kira 3 jam sehari lah. Makan? Ah 4 hari gak makan masih bisa hidup kan…”
^haha. exaggerating.

Begitulah saudara-saudara. Nah berhubung oh berhubung gue udah mencapai semester ketiga, logikanya secara mental gue udah siap mendefenisikan apa dan bagaimana menjadi mahasiswa farmasi -versi gua.

Ebuset, gue curcol kebanyakan yak (ini mah gak colongan lagi tapi berniatan). Pesan moral dari cerita gue adalah, dalam menentukan pilihan lo emang perlu perasaan, tapi jangan gunakan perasaan doang, pake pikiran juga. Masa depan lo harus diperhitungkan dengan matang.

Satu lagi, kalo lo punya tujuan kejar terus jangan menyerah, jangan putus asa karena sekali ditolak saudaraku.
*Buat yang mau lulus SMA semangat yow 🙂 Salam gaul.