A new journey

1Bismillahirrahmanirrahim,

Akan selalu ada rintangan untuk mencapai niat baik. Begitupun dengan konsistensi menulis blog. Selama kuliah 6 tahun yang panjang, ada banyak hal yang ingin saya bagi dan bahkan sudah diniatkan untuk dituangkan di blog. Tetapi ada sejuta alasan bernama kemalasan yang akhirnya membuat saya tak juga meng-update blog ini (tiup-tiup debu dan sarang laba-laba di pojokan). Agak sedih karena blog yang awalnya ditujukan untuk memotivasi teman-teman sesama farmasi (dan calon), dengan membagikan ilmu yang saya dapat selama kuliah, ternyata kandas begitu saja. Post awal saya tentang “gak papa masuk farmasi” jadi seolah-olah tidak meyakinkan karena tidak ada data penunjangnya. Haha.

Sempat sudah mengabaikan cita-cita mulai menulis blog, akhirnya saya tiba di tahun 2016. Tahun yang saya mulai dengan 2 target besar saja: lulus apoteker dan diterima kerja di tempat yang memfasilitasi ilmu apoteker dan S2 saya. Hanya Allah yang Maha Tahu, di tahun 2016 malah saya mengalami 2 peristiwa yang jauh lebih besar, menikah dan hamil. (Sambil curhat) setelah proses pernikahan yang menguras pikiran, awalnya saya memang memutuskan untuk menunda kehamilan. Merasa belum siap, merasa masih ingin beradaptasi di dunia kerja, meniti karir, dan beradaptasi dengan peran baru sebagai istri, membuat penundaaan kehamilan dengan yakinnya saya ucapkan pada keluarga, teman dan tiap interview kerja. Memang hanya Allah yang Maha Kuasa, keputusan-Nya lah yang membuat saya juga harus menyiapkan diri dengan peran baru sebagai seorang ibu,

Perasaan kalut dan takut, awalnya lebih dominan daripada kebahagiaan saya saat melihat garis-garis positif di test pack yang saya coba juga dikarenakan kekhawatiran. Suami dan ibu saya lah yang menguatkan saya, meyakinkan bahwa saya mampu dan siap mendukung saya 100%. Ibu saya juga berkali-kali mengingatkan jangan sampai saya merasa sedih karena janin di perut saya juga bisa merasakan apakah kehadirannya diinginkan atau tidak. Sampai pada titik dimana saya geli sendiri, mengapa saya bertingkah seperti ABG yang hamil di luar nikah, kan saya mah udah nikah dan ada suaminya. Haha.

Kekalutan dan perasaan tidak mampu itulah yang mendorong saya untuk lebih banyak belajar, mencari tahu tentang persiapan kehamilan, persalinan sampai parenting. Baca-baca grup dan milis ibu-ibu muda, blog walking, nonton video kehamilan, membuat saya lebih excited untuk mempersiapkan kelahiran buah hati pertama saya. Knowledge is power adalah kata-kata yang saya suka banget dan selalu saya pegang tiap harus jauh-jauh pergi dan merogoh kocek buat ikut kelas-kelas persiapan kehamilan. Sembilan bulan itu bukan waktu untuk menunggu persalinan, tapi waktu persiapan sebaik-baiknya untuk menyambut kedatangan si bayi mungil, juga kata-kata bidan yang saya camkan kediri saya supaya tidak kehilangan momen untuk mempersiapkan si dia, yang tidak bisa memilih untuk dilahirkan dan dibesarkan oleh siapa.

Makanya, saya bahagia banget bisa nemu blog ibu-ibu cantik dan baik hati yang sangat informatif dan super menyemangati ibu-ibu hamil yang tengah menghadapi hal serupa. Dari merasakan manfaat tersebut, saya jadi termotivasi untuk ikut membagi hal-hal yang telah saya alami selama masa persalinan saya, untuk ibu-ibu hamil pada khususnya dan pembaca lain pada umumnya. Pay It Forward yah kalo kata filem mah haha. Kalaupun tidak ada yang baca, setidaknya bisa untuk throwback buat diri saya sendiri nanti, kenang-kenangan tentang persiapan kelahiran anak pertama saya.

Jadilah blog ini diisi lagi. Sempet mau bikin blog bener-bener baru, tapi gak jadi abis baca posting-posting lama yang penuh emosi banget haha jadi gak tega. Biar disimpen buat kenang-kenangan (ibu hamil jadi melankolis mulu haha). Dan dimulai dengan basmalah, supaya bisa konsisten terus nulisnya.

A new start for a new journey, Insya Allah.