Fenomena ‘Menjadi Ketua’

Sebut ini penafsiran subjektif sekaligus naïf dari seorang yang terdepak dari kompetisi perebutan gelar ‘ketua’ tapi bagaimana pun juga saya merasa ini harus dituliskan dan (mungkin) dibahas. Sebelum bahkan saya menjadi terlalu apatis untuk memahamai sekaligus mengerti bahwa –jika ini memang benar- percaturan organisasi masa kini sungguh dalam bahaya besar.

Setelah sebelumnya ditawari menjadi pemimpin- dalam cakupan yang bagi saya cukup besar, sebenarnya saya sedang berada dalam tahap rehat organisasi. Selama ini saya merasa sudah terlalu loyal dalam menerima asupan tanggung jawab hingga tak dapat dipungkiri saya keteteran menjalani kehidupan pribadi.

Puncaknya adalah semester lalu ketika saya menerima tiga tanggung jawab sekaligus sebagai ketua divisi 2 acara berbada selagi sibuk berlatih penampilan unit kegiatan mahasiswa- yang notabene membuat saya pulang minimal pukul 22.30 malam. Entah bahkan saya pun tidak ingat bagaimana cara saya menjalani pergulatan hidup sekeras itu. Hubungan sosial jadi ngadat, penampilan berantakan dan nilai akademik akhirnya turut menjadi korban. Dan tanggung jawab itu, meski akhirnya selesai jua, tetaplah tidak dapat optimal karena harus berbagi hati dengan tanggung jawab lain.

Sampai akhirnya saya sampai pada sebuah pertanyaan, “Apa yang sebenarnya saya cari?”. Di tengah malam usai berlatih marching band , di kamar yang temaram, berantakan dan sendirian, pertanyaan yang ditujukan pada diri yang gembel usai pertarungan itu terasa begitu nelangsa. Tak ubahnya seperti kegalauan di belantika sinetron Indonesia.

Maka saya putuskan, saya tidak mau lagi kalap seperti itu. Saya tinggalkan satu persatu tanggung jawab organisasi saya dan mencoba menjadi pribadi yang bebas. Sedikit intermezzo, pola hidup bebas kegiatan organisasi ini sebenarnya terinspirasi dari seorang kawan yang memutuskan untuk menghapus pertemuan organisasi dalam jadwal hariannya. Istilah pergaulannya: ‘ansos’. Bagi saya waktu itu, kehidupannya yang santai tanpa tekanan, dibandingkan dengan hidup saya yang dikejar-kejar deadline, adalah rumput tetangga yang tak hanya hijau tapi juga segar dan menumbuhkan bunga mawar yang wangi. Pendek kata saya iri dan mau juga punya kehidupan seperti itu.

Tapi seperti yang pernah dikatakan salah seorang senior saya, kalau kamu sudah terbiasa dengan rutinitas yang begitu padat, ketika kegiatan itu berhenti kamu akan mencari kegiatan baru. Ya, saya rasa kesibukan adalah sebuah kecanduan. Tak lama setelah ambil cuti, saya menemukan kegalauan baru. Malam-malam saya yang padat sekarang kosong. Apa yang harus saya lakukan dengan kehidupan hampa seperti ini? Ya, manusia memang serba tidak bersyukur seperti itu- menggeneralisir padahal itu kan saya :P.

Akhirnya singkat cerita saya putuskan menerima tanggung jawab kecil. Saya putuskan jadi anggota baik-baik saja, mencoba fokus pada hal yang sudah saya sanggupi sebelumnya. Di tengah kehidupan saya yang masih stabil dan mencoba menemukan bentuk, tiba-tiba datanglah tawaran menjadi pemimpin unit kegiatan mahasiswa. Bagaimana mungkin cobaan seberat itu datang kepada orang lemah seperti saya?

Karena terasa seperti main-main saja, sesungguhnya saya tidak terlalu menaruh perhatian terhadap tawaran itu. Selintas lalu saja. Maka ketika tiba proses jajak pendapat calon pemimpin, saya panik. Ketidakpercayaan diri saya tampak jelas. Dari wawancara yang menye-menye seperti itu, tentu akhirnya saya gagal menjadi pemimpin.

Baiklah, mengenai topik tentang kepribadian dan kepercayaan diri saya yang bermasalah mungkin bisa dibahas dalam kesempatan lain. Sekarang saya ingin menyorot fenomena yang saya angkat dalam judul tulisan ini. Tak dinyana tak diduga, saya yang sudah pasrah tidak mau mencalonkan diri, tiba-tiba terpukul dengan keputusan musyawarah tersebut. Dan lebih dari 80% alasan keterpurukan saya pasca pemilihan ketua umum- yang menguras air mata itu, adalah fakta bahwa saya gagal mendapat jabatan apapun di saat teman-teman saya yang lain diberi amanah memangku beban lebih tinggi selama setahun ke depan.

Apa-apaan, tanya logika saya terhadap hati dan ego pribadi yang merengek manja seperti anak kecil meminta dibelikan permen. Sudah jelas saya tidak mampu, kenapa juga saya tidak bisa mengikhlaskan dan menerima dengan lapang dada seperti seorang pemenang sejati. Penyebabnya, bagi saya sendiri, adalah karena ego saya merasa menjabat sebagai ketua memang ‘sepenting’ itu. Menjabat sesuatu, tak ubahnya seperti alasan eksistensi keberadaan saya. Jika tidak, maka saya akan menjadi orang-orang biasa yang di mata ego tersebut berada pada kasta Sudra saja.

Buat apa jadi ketua?
Mengapa saya sebegitu keras menyesali takdir bahwa saya tidak berhasil menjabat di kepengurusan kali ini? Padahal berkontribusi saja jarang, punya bakat dan kapabilitas juga tidak. Lalu apa yang mau saya usung? Bukankah dengan begitu saya tidak ada bedanya dengan pejabat yang ongkang-ongkang kaki di kursi DPR? Kalau mereka begitu bersikukuh menginginkannya demi fulus yang berlimpah, lalu bukankah saya juga menginginkannya demi benda abstrak nan rapuh yang bernama popularitas?

Sepengamatan saya, selalu ada kata “Wah” yang tersirat atau bahkan tersurat kepada orang bersangkutan yang menerima jabatan sebagai ketua. Sebab, menjadi ketua bisa dianggap sebagai indikasi bahwa mereka mampu dan amanah untuk mengemban jabatan tersebut. Kekerenan yang melekat pada pribadi ketua ini, alhasil membuat orang-orang berusaha mengejarnya, sekedar untuk menyandang predikat.

Saya rasa, budaya kepemimpinan terus bergeser. Orang-orang tak lagi ingin menjabat pemimpin karena mereka mencitai yang mereka pimpin, bukan lagi karena cita-cita akan perbaikan dan kemajuan , tapi untuk ambisi pribadi. Padahal apa yang bisa didapat dari ketenaran yang fana?

Sementara tanggug jawabnya akan mengintai kita sampai akhir hayat. Pertanggung jawabannya tidak berhenti sampai eval atau laporan LPJ belaka, tapi hingga kelak di akhirat akan dipertanyakan apa yang telah kita lakukan terhadap amanah kita. Pahalanya tentu akan berlipat jika kita mampu dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab memegang jabatan kita, tapi begitupun dengan konsekuensi apabila kita lalai terhadapnya.

Menjadi pemimpin memang bukan sesuatu yang mudah. Mengakomodasi kepentingan dan keinginan anggota yang banyak dan beragam bukanlah pekerjaan yang ringan. Tapi menghindarinya juga bukan hal yang tepat. Jika memang siap, mau terus belajar dan berkomitmen, menjadi pemimpin adalah hal yang pantas dicoba. Bagaimanapun juga, pemimpin akan memperoleh banyak pelajaran yang umumnya tidak akan didapat oleh para anggotanya. Tapi menginginkannya sekedar untuk meraup popularitas sejak awal tentu merupakan niat yang salah.

Pada akhirnya, pemimpin adalah satu-satunya orang yang mampu bertahan di tengah gempuran ketidakpercayaan, di saat semua orang lain kehilangan keyakinan akan mimpi dan cita-cita yang pernah dirajut bersama,di saat tidak ada lagi yang sanggup membubuhkan janji untuk berkomitmen. Pemimpin adalah orang yang bisa membangunkan ketika rekan-rekan yang lain lemah, menyuntikkan semangat ketika kawan-kawannya mulai hilang kepercayaan dan menemukan jalan kembali ketika apa yang dibawanya sudah menelikung jalur yang dituju. Dan ‘jabatan’ pemimpin itu bukan untuk dicari tapi akan mendatangi kita ketika kita memang siap dan mampu untuk mengembannya di punggung kita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s