Debat dan (ehm) Ganja?

Hoopla. Back to life.

Alkisah, kira-kira seminggu yang lalu gue dilibatkan sebagai panitia proyeknya ISMAFARSI (Ikatan Senat Mahasiswa Farmasi), untuk bantuin bikin acara lomba debat gitu. Konsepnya simpel, semacam lomba debat anak-anak farmasi dengan topik seputar kefarmasian juga, dalam cakupan kecil skala Bandung aja.

Well, gue jelas bukan orang yang paham dan malang melintang dalam dunia perdebatan, seinget gue debat terakhir gue tuh pas SMA, itu pun secara ngasal. Gue bahkan masih bodoh, bisa dibohongi tim lawan yang membawa data palsu. Selugu itu.

Tapi debat selalu menarik buat gue, karena gue nona sinetron Indonesia yang seneng ngeliat orang berantem dan saling me-nyolot-i satu sama lain. Dan debat memberikan jalan yang legal dan sah untuk melakukan itu. Haha, seneng aja gue kalo harus ngedebat orang lain dan ngeles dari pernyataan lawan.

Nah, singkat cerita gue direkrut kan nih buat bantuin tim konten materinya. Dengan pengetahuan tentang aturan debat yang seadanya dan riwayat di dunia perdebatan yang juga seadanya jujur gue agak kelimpungan. Untung ada temen gue yang udah sering debat bahasa Inggris pas SMA. Nah dia ini jago bet, dulu juga sering jadi best speaker di lomba debat. Wow banget kan, secara gue ngomong bahasa sendiri aja belepotan nah temen gue ini dengan bahasa Inggris bisa ngajak ribut orang lain. Super sekali. Thanks to her, gue dapet gambaran tentang kriteria penjurian, sistem debat dan aturan remeh temeh lain yang bagi gue sepele tapi ternyata penting.

Akhirnya, tiba juga hari-H, peserta siap, panitia siap. Gue bagian briefing juri. Nah jurinya ini ada 3, dari kalangan akademisi (dosen), dari profesional farmasi sama dari mahasiswa forum debat di kampus gue. Pas briefing, gue lumayan kaget pas ibu dari profesional (BPOM) ini nanya tentang urutan pembicara pas debat. Hah? Segak tau itukah? Langsunglah gue briefing tuh si ibu, dengan penekanan penilaian di sana-sini dan dengan list forum penilaian sedetail mungkin pokoknya.

Well, sejujurnya gue mau banget nyeritain detail acara debatnya, mulai dari kekonyolan para juri sampe ratapan duka para panitia yang harus menekan budget anggaran semiskin mungkin. Ada juga anak farmasi kampus lain, yang gayanya sumpah sok asik banget. Mungkin tuntutan job dia sebagai debater sejati kali ya, tapi serius seperlu itukah mukanya mendiskreditkan lawan? Haha, pendek katanya tuh orang terlahir dengan bakat ngajak berantem orang, mulai dari struktur muka, tutur kata, gaya bicara, bahkan gaya dia merapikan pakaiannya. Ini membuat gue sadar bahkan bakat jadi preman bisa dimanfaatkan untuk hal positif, seperti jadi juru debat misalnya. Ada  juga yang punya gaya debat ala ceramah atau khotib jumat, yang selalu bikin gue sukses ketawa karena selalu menambahkan kata-kata “Ingatlah itu!” di akhir paragrafnya.

Tapi bukan itu yang merisaukan hati gue. Melainkan mosi debat. Entah mengapa ini selalu jadi topik tabu dalam lomba debat, terutama lomba debat farmasi. Soalnya susah nyari topik yang nggak berat sebelah di bidang farmasi. Sementara topik yang beda sebelah tentu riskan dong buat salah satu tim, baik itu tim pro ataupun kontra. Berikut gue beberkan mosi debat babak penyisihan:

  1. Penggunaan PPCPs (Pharmacetical and Personal Care Product) harus diminimalisir karena banyak menimbulkan efek buruk terhadap lingkungan.
  2. Target industri farmasi seharusnya adalah pemenuhan kebutuhan obat untuk masyarakat bukan malah target ekspor ke luar negri.
  3.  Dengan semakin meningkatnya kebutuhan akan obat di negara kita, kurikulum pendidikan farmasi harus disusun ke arah teknologi pembuatan obat.
  4. Haruskan ketentuan tentang obat originator/obat paten diubah/dihapus
  5. Pemanfaatan bahan alam di Indonesia sebagai bahan obat meningkat seiring dengan beredarnya isu back to nature.

Buat babak semifinal, isu mosinya itu: Industri farmasi Indonesia siap terlibat dalam pasar bebas ASEAN-China 2015. Nah hot issuenya ini adalah pas di babak final, karena isunya adalah:

LEGALISASI GANJA UNTUK INDUSTRI FARMASI

Oh iya FYI, isu mosi ini udah digali dari berbagai sumber sama anak-anak tim materi dan divalidasi sama dosen. Kadiv gue dari jauh-jauh hari tanpa bosan mewanti-wanti kami anak buahnya untuk mencari mosi yang tidak imbang sebelah.

Nah buat gue sendiri sih, debat finalnya berjalan lancar. Tim pronya mahasiswa tingkat atas, mereka bilang ganja mengandung senyawa cannabinoid, anti depresan yang bagus dengan efek samping minimum dibandingkan yang lain. Udah gitu juga dibahas tentang perlindungan senyawa obat golongan narkotik dan lain-lain. Dan tim kontra tentu saja, mempertanyakan keabsahan aturan ini. Ada juga yang sempat bilang sudah ditemukan senyawa antidepresan yang bagus dibandingkan ganja, seperti ekstrak kulit pisang. Gue gak ngerti lagi deh ternyata perkembangan industri farmasi udah sejauh ini, atau tim kontranya udah bingung sendiri.

Tapi yang epik adalah komentar para juri dari kalangan profesional. Mereka menyudutkan tim pro dengan mengatakan bahwa legalisasi ganja itu tidak mungkin. Pemerintah saja sampai sekarang masih kesulitan mengani perdagangan gelap ganja, apalagi kalo legal, selain itu ganja bukan antidepresan yang bagus dan sebagainya. Cuma juri dari kalangan aktivis debat yang memberikan pandangan objektif dari kedua belah pihak. Sedihnya adalah karena para juri itu membicarakan realita, padahal ini lomba debat dan bukan jajak pendapat. Bahkan si ibu tersebut di akhir acara sempat berkomentar,”Ya saya ini kan dari kalangan pemerintah, masak saya memenangkan yang mau melegalkan ganja”. Sungguh.Jujur. Gue. Miris.

Gue gak mau berkomentar lebih jauh tentang si ibu ini. Melihat tidak terlalu pahamnya beliau dengan teknis lomba debat, seperti terbukti dengan pertanyaan beliau di awal cerita, gue rasa wajar beliau berpikir demikian. Belum lagi tekanan beliau di dunia kerja yang gue juga gak tahu.

Tapi yang mau gue singgung lebih jauh adalah masalah legalisasi ganja. (Wah, cukup panjang ya gue basa-basinya)

Pas kadiv gue bilang mosi ini digunakan untuk final, sesungguhnya gue langsung bilang,”Emang gak susah buat pronya ya?”

Katanya sih topik ini sempat dibawa ke parlemen Amerika. Dalam rangka apa, gak tau juga sih ->ketauan males nyari. Tapi gue inget persinggungan gue dengan legalisasi ganja ini pas gue sama temen-temen gue lagi ke Gramedia. Salah satu temen gue yang mau berangkat ke Belanda, waktu itu sambil bercanda bilang, takut bakal kecanduan, karena orang-orang menanam ganja untuk dirinya sendiri, bahkan ada di pot-pot di halaman rumah. Secara di Belanda ganja kan legal.

Nah, tiba-tiba muncul lah entah darimana buku berjudul: Hikayat Pohon Ganja, karya tim LGN a.k.a tim legalisasi ganja. Lebih lanjut mungkin bisa cari di google.

Waktu itu gue cuma sempet baca sinopsis belakangnya doang. Temen gue yang cukup gaul berbaik hati untuk menjelaskan tentang sinyalemen isu ilegalisasi ganja yang dipicu sama orang Amerika. Katanya kayu pohon ganja ini kayu terbaik, obat yang bisa dihasilkan bagus, dan manfaatnya di bidang industri juga besar. Nah makanya orang Amerika mau make ganja buat dirinya sendiri, jadilah dampak buruk ganja, sebagai zat adiktif dan narkotiknya digembar-gemborkan supaya orang-orang gak mau membudidayakan ganja.

Seinget gue waktu itu, gue cuma manggut-manggut doang. Dan sebagai mayoritas remaja Indonesia yang sehat gue gak mau capek-capek mikirin hal begituan. Tentu ftv dan sinetron remaja lebih menarik. Tapi tak urung, ini membuat gue penasaran juga. Emang bener?

Nah, dari http://www.legalisasiganja.com/, gue dapet info bahwasanya ganja memang berperan dalam dunia medis. Versi kutipan mentahnya kira-kira:

Tanaman ganja secara keseluruhan, termasuk kuncup, daun, biji, dan akar, semuanya telah digunakan sebagai ramuan obat sepanjang sejarah. Meskipun batasan hukum yang tegas dan hukuman pidana berat untuk penggunaan terlarang, ganja semakin banyak digunakan di Amerika Serikat dan di seluruh dunia, baik untuk sifat-sifatnya mengubah suasana hati dan penerapannya sebagai obat-obatan yang telah terbukti. Diskusi mengenai manfaat ganja dari segi keamanan dan efektivitas sangat bermuatan politis.

Marijuana telah terbukti sebagai obat analgesik, anti muntah, anti-inflamasi, penenang, anticonvulsive, dan tindakan pencahar. Studi klinis telah menunjukkan efektivitas ganja dalam mengurangi mual dan muntah setelah kemoterapi untuk pengobatan kanker. Tanaman ini juga telah terbukti mengurangi tekanan intra-okular di mata sebanyak 45%, dalam pengobatan glaukoma. Cannabis telah terbukti sebagai anticonvulsive, dan dapat membantu dalam merawat penderita epilepsi. Penelitian lain telah mendokumentasikan sebuah in-vitro efek penghambat tumor THC. Marijuana juga dapat meningkatkan nafsu makan dan mengurangi rasa mual dan telah digunakan pada pasien AIDS untuk mencegah penurunan berat badan serta efek lain yang mungkin timbul dari penyakit ini. Dalam sebuah studi penelitian beberapa kandungan kimia dari ganja menampilkan aksi antimikroba dan efek antibakteri. Komponen CBC dan d-9-tetrahydrocannabinol telah terbukti dapat menghancurkan dan menghambat pertumbuhan bakteri streptokokus dan staphylococci.

Ganja mengandung senyawa kimia yang dikenal sebagai canabinoid. Jenis canabinoid yang berbeda-beda memiliki efek yang berbeda pula pada tubuh setelah di konsumsi. Penelitian ilmiah mengindikasikan bahwa zat ini mempunyai nilai potensi terapi untuk menghilangkan rasa sakit, kontrol mual dan muntah-muntah, serta stimulasi nafsu makan. Zat aktif utama ganja yang teridentifikasi sampai saat ini adalah 9-tetrahydro-cannabinol, yang dikenal sebagai THC. Bahan kimia ini kemungkinan mengandung sebanyak 12% dari bahan kimia aktif dalam ramuan, dan memberikan pengaruh sebanyak 7-10% dari akibat yang di timbulkan seperti rasa gembira, atau “high” yang dialami saat mengkonsumsi ramuan ganja. Kualitas ramuan “euforia” ini tergantung pada saldo bahan aktif lain dan kesegaran bahan ramuan. THC ter-degradasi ke komponen yang dikenal sebagai cannabinol, atau CBN. Kimia aktif ini relatif tidak menonjol dalam ganja yang telah disimpan terlalu lama sebelum digunakan. Komponen kimia lain, cannabidiol, atau dikenal sebagai CBD, memiliki efek sedatif dan analgesik ringan, dan memberikan kontribusi ke somatic heaviness yang kadang-kadang dialami oleh pengguna ganja.

Pelarangan/prohibition
Sebelum adanya larangan, ganja direkomendasikan untuk pengobatan gonore, angina pektoris (konstriksi nyeri di dada karena darah tidak cukup untuk jantung), dan cocok untuk mengatasi tersedak. Ganja juga dapat digunakan untuk mengatasi insomnia, neuralgia, reumatik, gangguan pencernaan, kolera, tetanus, epilepsi, keracunan strychnine, bronkitis, batuk rejan, dan asma. Kegunaan lain adalah sebagai phytotherapeutic (nabati terapeutik) termasuk pengobatan borok, kanker, paru-paru, migrain, penyakit Lou Gehrig, infeksi HIV, dan multiple sclerosis.

Wah, sebenernya jujur gue gak paham, dan gak juga mendukung legalisasi ganja karena well, gue emang gak punya ilmunya. Tapi intinya gue pengen bilang, OPEN MINDED lah. Dunia terus berputar, ilmu pengetahuan terus berkembang, kenapa kita membatasi diri sekedar dengan apa yang kita tahu saja?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s